Masa Depan Dengan Teknologi Kendaraan Listrik – Masa Depan transportasi sedang menjadi bahan perdebatan. Ada pertarungan ide yang semakin sengit. Antara kendaraan listrik (EV) dan e-fuel.
Sebagian pihak skeptis melihat bahan bakar e-fuel. Itu hanya upaya produsen mobil lama. Untuk menunda transisi ke teknologi baru.
Di sisi lain, ada optimisme besar. Dari para pendukungnya yang sangat percaya. Bahwa e-fuel adalah jembatan penting. Untuk mengatasi berbagai masalah yang ada. Masalah yang tak bisa di selesaikan kendaraan listrik.
Mengenai E-Fuel
Argumen paling kuat menentang e-fuel. Adalah masalah pada efisiensi energinya. Proses produksinya membuang banyak sekali energi.
Proses itu di mulai dengan proses elektrolisis. Untuk memecah air menjadi unsur hidrogen. Ketika hidrogen ini di gabungkan dengan CO. Maka lebih banyak lagi energi hilang.
Akhirnya, saat e-fuel dibakar mesin. Sebagian besar energi jadi panas. Bukan menjadi sebuah gerakan mekanis.
Penelitian ilmiah telah menunjukkan fakta ini. Dari 100 kWh listrik di awal. Hanya 10-15 kWh menggerakkan mobil.
Hal ini sangat kontras dengan mobil listrik. Sekitar 70-80 kWh dari 100 kWh. Dapat di gunakan untuk menggerakkan mobil. Ini membuatnya delapan kali lebih efisien.
Selain efisiensi, biaya produksi e-fuel. Juga menjadi sebuah kendala yang utama.
Riset terkini memperkirakan harganya mahal. Yaitu sekitar 1,10 hingga 1,80 per liter. Angka ini sungguh tidak realistis. Untuk konsumsi secara massal.
Baca juga : Mobil Listrik Canggih Siap Meluncur Di Indonesia
Energi E-Fuel
Produksi e-fuel sekarang masih terbatas. Untuk menggantikan semua bahan bakar fosil. Diperlukan skala produksi yang sangat masif.
Butuh pasokan energi terbarukan. Dalam jumlah yang sangat luar biasa. Ini menjadi sebuah tantangan sangat besar. Mengingat banyak negara masih terus berjuang. Untuk memenuhi kebutuhan listrik dasarnya.
Masalahnya ternyata tidak berhenti di situ. Pembuatan e-fuel juga butuh CO. Yang di tangkap melalui proses Direct Air Capture. Teknologi ini mengambil CO secara langsung. Langsung dari udara di sekitar kita.
Namun proses ini butuh energi besar. Yaitu sekitar 140-210 kWh per ton. Untuk setiap ton CO yang ditangkap.
Perspektif Lain: E-Fuel untuk Kebutuhan Khusus, Bukan untuk Semua Namun, mengabaikan e-fuel sepenuhnya adalah salah. Karena pendekatan ini menyederhanakan suatu masalah.
Potensi E-Fuel
Bagi E-fuel tidak harus bersaing secara langsung. Dengan mobil listrik di jalan raya. Perannya bisa jadi jauh lebih penting. Di sektor lain seperti industri penerbangan. Serta pada sektor industri perkapalan.
Di dalam sektor-sektor ini. Bobot baterai yang sangat berat. Membuat elektrifikasi menjadi tidak praktis. Sehingga e-fuel muncul sebagai solusi. Sebagai solusi dekarbonisasi yang sangat potensial.
Untuk E-fuel juga dapat berfungsi jembatan teknologi. Industri otomotif Jerman melihat potensi ini. Mereka punya sejarah panjang dalam mesin. Khususnya dalam mesin pembakaran internal.
Porsche contohnya, menjadi pendukung yang kuat. Porsche telah menginvestasikan sekitar $75 juta. Pada proyek percontohan Haru Oni di Chili.
Proses E-Fuel
Pabrik ini memanfaatkan angin yang kencang. Yang bertiup hampir sepanjang tahun lamanya. Untuk bisa menghasilkan bahan bakar e-fuel. Target produksinya 55 juta liter.
Pada tahun 2024 yang akan datang. Hal ini menunjukkan sebuah komitmen serius. Terhadap pengembangan teknologi bahan bakar ini.
Contoh produksi e-fuel di Chili. Menyoroti sebuah kasus penggunaan yang penting. Listrik yang digunakan untuk pabrik itu. Seringkali merupakan kelebihan dari pasokan.
Berbagai sumber energi yang terbarukan. Listrik itu tak dapat disalurkan. Ke dalam jaringan listrik nasional. Fenomena ini dikenal sebagai curtailment.
Di Chili, tercatat ada 6 TWh. Listrik terbarukan terbuang pada tahun 2024. Dengan memanfaatkan listrik sisa ini. Untuk memproduksi bahan bakar e-fuel.
Inefisiensi proses menjadi lebih dapat diterima. Karena memakai energi yang akan terbuang.
E-fuel mempunyai peran yang sangat penting. Di sektor yang sulit dielektrifikasi. Ia bisa menjadi alat transisi krusial. Terutama bagi negara-negara berkembang. Yang infrastruktur listriknya memang belum siap.