Tsunami Covid-19 di India, Indonesia Harus Apa?

Prevalensi Covid-19 hingga kini tak kunjung usai, membuat berbagai negara memperketat protokol kesehatan. Berbeda dengan India, pelonggaran pembatasan mobilisasi tengah dilakukan.  Namun, siapa sangka hal ini menjadi mula tsunami Covid-19 di negara tersebut? Lantas bagaimana agar Indonesia tak mengalami hal serupa? Berikut penjelasannya. 

Covid-19 yang berasal dari Wuhan, Cina, telah berhasil menyebar ke beberapa wilayah di seluruh dunia. World Health Organization (WHO) mencatat terdapat 3.759.967 jiwa yang positif Covid-19 dan 259.474 jiwa yang meninggal akibat Covid-19 pada bulan Mei 2020. Sejauh ini, terdapat lebih dari 212 negara yang sudah terkonfirmasi terinfeksi virus ini, termasuk India. Kasus Covid-19 pertama di India terjadi di Kerala pada 30 Januari 2020 dan diikuti kasus kedua yang terjadi tanggal 2 dan 3 Februari. Sebulan setelahnya, pada tanggal 2 Maret 2020 tercatat dua kasus baru. Sejak saat itu, kasus ini terus meningkat di India. Awalnya, penanganan Covid-19 di India menuai banyak pujian karena program vaksinasi massal. Namun, dilansir dari Covid19india.org, tanggal 22 April 2021 terdapat peningkatan sebanyak 318.835 jiwa yang terjangkit Covid-19 dalam sehari. Angka ini mengalahkan rekor Amerika yang sebelumnya sebanyak 297.430 kasus dalam sehari. 

Penyebab melonjaknya kasus ini diduga karena adanya perayaan Festival Kumbh Mela tanggal 12 April 2021 di sungai Gangga, Hidus. Perayaan festival yang diadakan setiap 12 tahun sekali ini diikuti tanpa mematuhi protokol kesehatan. Selain itu, dua hari setelah perayaan tersebut, umat muslim merayakan hari pertama bulan suci Ramadan. Lonjakan kasus ini diperparah karena Perdana Menteri Narendra Modi melakukan kampanye serta  mengizinkan diselenggarakan pertandingan kriket yang disaksikan 13.000 orang secara langsung tanpa mematuhi protokol kesehatan. 

Melihat lonjakan kasus semakin meningkat, Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga India mengeluarkan pembatasan perjalanan selama 21 hari serta menghentikan layanan rawat jalan dan rawat inap reguler agar langsung ke layanan darurat Covid-19. Cara ini dinilai efektif menekan kasus baru Covid-19. Sistem ini disertai dengan aturan pendatang baru ke India untuk melakukan karantina mandiri selama 14 hari serta fasilitas seperti hotel, kampus, sekolah diubah menjadi bangsal isolasi.

Tsunami Covid-19 di India merupakan bukti nyata apabila masyarakat tetap beraktivitas tanpa mematuhi protokol kesehatan. Diizinkannya melakukan kampanye dan perayaan tradisi menjadikan kasus ini krisis dan mengerikan. Hal ini diperparah dengan kelambanan manufaktur dan kekurangan bahan baku vaksin. 

Kejadian di India merupakan gambaran apabila Indonesia tetap nekat melakukan mobilitas tanpa jaminan protokol yang dipatuhi dengan ketat. Secara hipotesis, epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, memprediksi lonjakan Covid-19 terjadi selama periode lebaran 2021. Mobilitas mudik saat hari raya ini semestinya dibatasi, baik skala besar maupun kecil. Namun, pemerintah memberikan izin dalam satu aglomerasi. Padahal, segala arus pergerakan keluar dari zona, baik itu berupa kota maupun kabupaten tetap dapat menularkan virus. Pembatasan ini wajib dipatuhi meski suasana dari hari raya tak sama seperti tahun sebelumnya. Hal ini dilakukan, sebab apabila Indonesia lengah maka varian mutasi Covid-19 asal Inggris (B. 1. 1. 7), mutasi ganda asal India (B. 1. 617), dan mutasi asal Afrika Selatan (B. 1. 351) telah masuk dan siap menginfeksi masyarakat Indonesia. Mutasi Covid-19 ini diyakini dapat menginfeksi secara cepat karena memiliki daya penularan lebih tinggi dari virus Covid-19 biasa. Bahkan diprediksi potensi penularannya hingga 70% yang dapat menyebabkan individu terinfeksi parah. Lonjakan infeksi mutasi ini tentu akan menyebabkan padatnya isolasi rumah sakit dan parahnya lagi kekurangan bangsal isolasi. 

Nah, kini Sobat Injeksi telah mengetahui kan dampak jika tetap nekat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa mematuhi protokol kesehatan dan kebijakan pemerintah. Kita harus mawas diri agar gelombang kedua tak terjadi. Namun, apabila kita tetap nekat maka bersiaplah menyaksikan dampaknya. Tak hanya pada fisik individu, impaknya hingga keluarga, negara bahkan dunia. Jadi, jangan menyepelekan kejadian ini, ya! Belajar dari penggalan alur Covid-19 di India, maka secara tak langsung kita dapat mengurangi beban hari esok karena dari pengalaman kita melakukan kesalahan baru, bukan kesalahan lama yang berbeda tempat. Sobat Injeksi, soal bangkitkan Indonesia, jangan sampai terinfeksi, ya!

Sumber :

TEMPO.CO., 1 Mei 2021, Jakarta, 

https://en.tempo.co/read/1458261/lesson-learned-from-india

Frontiers., 22 Mei 2020,

https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fmed.2020.00250/full

Indian Journal Of Ophthamology., Mei 2020,

https://journals.lww.com/ijo/Fulltext/2020/68050/COVID_19_pandemic__Lessons_learned_and_future.7.aspx

JMIR Publications., 17 Mei 2020, 

https://publichealth.jmir.org/2020/3/e20341/?utm_source=TrendMD&utm_medium=cpc&utm_campaign=JMIR_TrendMD_0

Kompas.com, 5 Mei 2021

https://megapolitan.kompas.com/read/2021/05/05/12512011/belajar-dari-lonjakan-kasus-covid-19-di-india-malaysia-dan-jakarta

Staff : Monica dan Angel

Redaktur : Klara

Editor : Fitria

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *