Mengulik Tentang Stunting Pada Anak bersama Dr. Ni Ketut Sutiari

Halo Sobat Injeksi! Apa Kabar? Semoga dalam keadaan sehat ya.

Seperti yang Sobat Injeksi tahu, hingga saat ini, Indonesia masih berjuang untuk melawan COVID-19. Dampak yang diberikan oleh adanya pandemi COVID-19 ini dapat dilihat dari berbagai aspek, salah satunya adalah aspek gizi. Sebelum adanya pandemi, salah satu permasalahan krusial yang sedang digencarkan oleh pemerintah adalah stunting. Bahkan stunting masuk ke dalam salah satu prioritas nasional Indonesia! Namun, setelah adanya pandemi COVID-19, kasus stunting seolah-olah menghilang dari permukaan. Menanggapi hal tersebut, seorang narasumber yang ahli di di bidangnya, yaitu Dr. Ni Ketut Sutiari, S.KM., M.Si. memaparkan beberapa informasi terkait stunting pada anak. Simak pembahasannya di sini!

Apa itu stunting?

Stunting merupakan suatu kondisi dimana terjadi masalah gizi kronis (dalam waktu yang lama) pada anak. Penderita stunting ditandai dengan tinggi badan yang tidak sesuai dengan umur atau tidak sesuai dengan standar. Pengukuran stunting menggunakan standar WHO antropometeri tahun 2005 untuk anak balita usia 0-59 bulan.

Apa yang menjadi penyebab terjadinya stunting?

Penyebab dari stunting sangatlah beragam. Bukan hanya dari bidang kesehatan, melainkan dari luar bidang kesehatan juga turut adil. Hasil penelitian menunjukan bahwa 30% penyebab masalah stunting berasal dari bidang kesehatan. Contohnya adalah penyakit infeksi, asupan gizi yang kurang, dan lain sebagainya. Sementara, 70% lain berasal dari luar bidang kesehatan, seperti permasalahan sanitasi lingkungan, kondisi akses air bersih, dan lain sebagainya. 

Dampak apa yang dapat ditimbulkan oleh stunting?

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kondisi stunting atau gizi kurang dapat berdampak pada suatu penyakit kronis. Contoh dari penyakit kronis yang menjadi dampak dari stunting adalah penyakit jantung, hipertensi, dan lain-lain.

Menurut Dr. Ni Ketut Sutiari, bagaimana dengan isu stunting yang sebelumnya sangat digencarkan pemerintah, tetapi untuk saat ini seolah menghilang dikarenakan pandemi COVID-19?

Isu stunting ini masih tetap dipikirkan oleh pemerintah, walaupun dalam masa COVID-19 ini. Dimulai dari upaya menangani stunting dan pencegahannya hingga upaya penderita stunting masih dapat melakukan aktivitas sehari-hari dan bertahan hidup dengan baik. Dikarenakan kondisi pandemi saat ini yang menghalangi para warga datang ke posyandu untuk menimbang balitanya, pemerintah melakukan suatu upaya yaitu e-monitoring yang bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi. Dari e-monitoring sendiri, Sobat Injeksi dapat mengetahui kondisi dari permasalahan stunting, masalah gizi kurang, dan lain sebagainya. Data e-monitoring didapat dari beberapa puskesmas yang memasukkan data setiap bulannya dan nantinya akan direkap oleh tenaga kesehatan di tingkat kabupaten.

Apa yang menjadi tantangan dalam penanganan stunting selama pandemi?

Untuk memudahkan akses kepada masyarakat, pemerintah dan tenaga kesehatan yang bertugas perlu mengoptimalkan protokol kesehatan di daerah masing-masing. Diperlukan juga persetujuan dari aparat desa dan gugus petugas COVID-19 setempat sehingga dapat membuka kembali posyandu atau dapat melakukan temu janji untuk screening pemantauan gizi balita. Upaya lain dilakukan dengan cara mengirim langsung tenaga kesehatan untuk mengunjungi masyarakat satu persatu melalui persetujuan kepala daerah. 

Saran apa yang dapat diberikan oleh Dr. Ni Ketut Sutiari untuk keluarga terdekat dalam membantu mengurangi kasus stunting?

Upaya mencegah stunting dapat dilakukan dengan cara memantau pertumbuhan anak. Dimulai dari memantau berat badan dan tinggi badan anak tersebut. Hal ini merupakan upaya sedini mungkin untuk mengetahui lebih lanjut apakah anak tersebut mengarah terhadap terjadinya stunting atau tidak. Upaya lain yang dapat dilakukan adalah pada saat anak mulai diberikan makanan pendamping ASI dan perlu adanya pemahaman lebih lanjut terhadap pemberiannya. Berikutnya ASI eksklusif harus diberikan 0-24 bulan. Calon pengantin juga dianjurkan untuk mengecek status gizi sebelum menikah dikarenakan apabila wanita mengalami kekurangan gizi sebelum menikah akan berdampak pada saat ia hamil nantinya. Status gizi yang optimal dapat diupayakan dengan memperhatikan pola makan yang sehat dan seimbang, mengonsumsi tablet tambah darah sehingga anak yang dilahirkan dapat bertumbuh dengan sehat dan baik status gizinya. 

Dari obrolan singkat dan padat bersama Dr. Ni Ketut Sutiari, stunting dapat dipahami sebagai isu yang tetap perlu dikawal, termasuk di masa pandemi COVID-19 ini. Jadi, wawasan baru apa yang Sobat Injeksi dapatkan dari pemaparan kali ini mengenai stunting? 

Narasumber    :  Dr. Ni Ketut Sutiari 

Staff        : Angel

Editor        : Ratih 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *