Menelisik Kondisi Kesehatan Mahasiswa FK Unud Selama Pembelajaran Dalam Jaringan (Daring)


Krisis Pembelajaran Daring

Sejak awal Maret 2020, pemerintah Indonesia telah memberlakukan sistem pembelajaran jarak jauh dari tingkat pendidikan dasar hingga perguruan tinggi akibat dari pandemi Covid-19. Pada tingkat perguruan tinggi, hampir semuanya menggunakan aplikasi, seperti cisco webex meeting atau zoom meeting untuk aktivitas pembelajaran. Pembelajaran daring yang bertujuan untuk mengoptimalkan proses pembelajaran dalam keadaan pandemi, ternyata menyimpan berbagai tantangan. Kualitas internet yang belum merata menjadi salah satu tantangan yang sering dihadapi mahasiswa. Selain itu, mahasiswa menjadi lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar laptop atau gadget. Skill untuk mengoperasikan aplikasi tidak kalah penting untuk dikuasai demi mendukung kuliah daring. Dengan demikian, mahasiswa perlu beradaptasi untuk menghadapi sistem pembelajaran yang relatif baru.

Perlu diketahui, pembelajaran daring dianggap menjadi paradigma baru dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini dikarenakan mahasiswa dan dosen tidak perlu hadir di ruang kelas sehingga dapat dilakukan di mana pun. Namun, pertanyaannya adalah, ”Apakah mahasiswa memiliki kondisi kesehatan yang sama dalam pembelajaran daring? Apakah terjadi penurunan atau peningkatan yang signifikan dari kondisi kesehatan mahasiswa dalam pembelajaran daring?” Oleh karena itu, LPM Pcyco FK Unud telah melaksanakan survei daring untuk mengeksplorasi dan memahami kondisi kesehatan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. 

Metodologi dan Karakteristik Responden 

Survei berlangsung dari tanggal 6 sampai 9 April 2021 melalui kuesioner daring. Terdapat 116 responden sukarela di FK Unud yang bersedia mengisi kuesioner tersebut. Sebanyak 50% responden berasal dari Program Studi Kesehatan Masyarakat, 30,2% dari Program Studi Pendidikan Dokter, 6,9% dari Program Studi Fisioterapi, 6,9% dari Program Studi Ilmu Keperawatan, dan 6% dari Program Studi Psikologi. Selanjutnya, 83,6% responden berusia 18-19 tahun dan 16,4% dari total responden berusia di atas 20 tahun. Responden paling banyak berasal dari angkatan 2020 (sebanyak 75%), angkatan 2019 sebanyak 20,7%, angkatan 2018 sebanyak 2,6%, dan angkatan 2017 sebanyak 1,7%. Ada pun kondisi kesehatan yang difokuskan meliputi aspek fisik, psikologis, dan interaksi sosial mahasiswa.

Kondisi Fisik Mahasiswa Selama Pembelajaran Daring

Menghabiskan berjam-jam untuk duduk dan menatap layar laptop atau gadget ternyata  menyebabkan perubahan kondisi fisik mahasiswa. Berdasarkan survei yang dilakukan, 81,9% responden mengalami keluhan fisik selama belajar daring.

Menurut American Optometric Association (AOA), penggunaan komputer memicu gangguan penglihatan yang dinamakan Computer Vision Syndrome (CVS). CVS adalah masalah mata majemuk yang berdampak pada kesehatan fisik seseorang. Gejala fisik yang dialami tidak hanya terlihat pada mata, tetapi juga pada sistem muskuloskeletal, seperti nyeri di daerah bahu, punggung, dan lengan (Permana, dkk, 2015).

Salah satu responden mengatakan bahwa perkuliahan daring menyebabkan munculnya berbagai keluhan fisik. Sebagian besar mengatakan bahwa mata mereka sering terasa perih, kepala pusing, sakit leher, dan sakit punggung. Penurunan daya tahan tubuh juga dirasakan mahasiswa karena kurangnya aktivitas fisik dan jarang terpapar sinar matahari. Untuk mengatasi keluhan-keluhan tersebut, sebagian responden mengatasinya dengan melakukan peregangan, mengatur posisi duduk dengan benar, menggunakan kacamata antiradiasi, rutin berolahraga, dan refreshing di sela-sela kegiatan perkuliahan.

Selain memberikan dampak negatif, ternyata perkuliahan daring yang dilaksanakan dari rumah juga memberikan dampak positif bagi sebagian mahasiswa. Sebesar 24.1% responden menyatakan bahwa perkuliahan daring justru menyebabkan adanya peningkatan kondisi fisik.  Beberapa responden berpendapat bahwa selama perkuliahan daring mahasiswa memiliki cukup waktu untuk beristirahat dan berolahraga.

Kondisi Psikologis Mahasiswa Selama Pembelajaran Daring

77,6% responden mengaku mengalami keluhan psikologis selama belajar daring. Keluhan yang paling menonjol meliputi sulit berkonsentrasi, overthinking, cemas, sulit tidur, panik, dan tidak percaya diri. Bahkan, salah satu responden mengaku mengalami suicidal thought (berpikir untuk bunuh diri). Pada dasarnya, masalah psikologis adalah penghalang utama kesuksesan akademis. Penyakit mental atau psikologis dapat memengaruhi motivasi, konsentrasi, dan interaksi sosial siswa (Sasangohar, dkk, 2020).

“Pembelajaran daring bagiku bukannya ringan tapi semakin berat, karena keterbatasan bertemu teman, jadinya stres sendiri, ngerasa berat, sampai-sampai cemas sama hasil ujian. Selain itu karena tugas yang banyak otomatis jadi begadang dan kurang tidur, merembet lah ke tidak bisa berkonsentrasi”-Responden.

“Saya sulit berkonsentrasi karena banyak distraksi dan kurang punya regulasi diri untuk tetap fokus. Karena daring jadi semuanya one click away sehingga sangat mudah untuk berpindah dari zoom ke tab chrome atau perhatian teralihkan karena notif hp. Cemas karena merasa semakin bodoh namun juga sulit belajar kelompok mengingat sudah pada proposal dan tugas yang kita kerjakan sama-sama banyak”- Responden.

Dalam mengatasi keluhan psikologisnya, sebagian besar responden melakukan manajemen diri dan mencari dukungan dari orang lain. 

Sementara itu, sebanyak 62,9% responden mengalami peningkatan kondisi psikologis. Kebanyakan responden mengungkapkan bahwa perkuliahan daring membuat mereka memiliki lebih banyak waktu untuk keluarga dan diri sendiri. 

Data tersebut menggambarkan bahwa permasalahan kesehatan mental, seperti cemas, depresi, dan masalah lainnya, dirasakan secara nyata oleh mahasiswa FK Unud pada saat ini. Oleh karena itu, perlu disediakan dukungan emosional kepada mahasiswa. Selain itu, perlu dibuat pedoman untuk mengantisipasi hal tersebut untuk kebutuhan kelompok mahasiswa yang rentan. 

Interaksi Sosial Mahasiswa Selama Pembelajaran Daring

Interaksi sangat penting dalam proses pembelajaran, baik antara mahasiswa dengan mahasiswa maupun antara mahasiswa dengan dosen untuk membangkitkan semangat belajar agar dapat mencapai hasil yang lebih maksimal. 

Namun, berdasarkan hasil survei, sebanyak 46,6% responden memiliki hambatan interaksi sosial dengan teman dan/atau dosen selama belajar daring. Hambatan  interaksi yang dialami responden adalah tidak nyaman menggunakan gadget, miskomunikasi, merasa tidak akrab, sulit dihubungi, tidak percaya diri, jadwal kuliah yang padat, perbedaan daerah asal, dan gangguan jaringan. Akan tetapi, 62,1% dari total responden mengaku mengalami peningkatan kualitas interaksi sosial dengan teman dan/atau dosen selama belajar daring.

“Kekhawatiran untuk orang-orang terdekat selama masa pandemi. Hal ini meningkatkan interaksi untuk menanyakan kabar, saling mengingatkan dan lain sebagainya”-Responden.

“Saya lebih sering berinteraksi dengan teman-teman untuk menanyakan materi kuliah yang belum saya pahami sehingga saya merasa lebih dekat dengan teman-teman saya”-Responden.

Rekomendasi

Sekitar 73,3% responden lebih memilih kuliah tatap muka dibandingkan daring. Hal ini dikarenakan responden lebih berkonsentrasi saat belajar dan materi perkuliahan yang diberikan dapat dipahami dengan baik sehingga perkuliahan berjalan efektif. 

Para responden memberikan saran agar mahasiswa tetap menjaga kondisi kesehatannya, sehingga pembelajaran daring berjalan dengan efektif. Beberapa hal berikut dapat dipertimbangkan guna membantu mengurangi beberapa efek negatif yang dialami pada kondisi kesehatan mahasiswa, antara lain:

  1. Menjaga pola makan, meningkatkan kepedulian kepada keluarga, teman-teman, serta diri sendiri.
  2. Mengembangkan wawasan dengan mencari informasi terkait tips menjaga kondisi tubuh di masa pandemi Covid-19.
  3. Menyusun strategi inovatif untuk mengatasi kejenuhan mahasiswa selama pembelajaran dan sesuaikan jadwal perkuliahan dengan memberi jeda/istirahat pada saat perpindahan mata kuliah.
  4. Menyempatkan untuk melakukan peregangan ketika mengikuti pembelajaran daring.
  5. Menjaga kesehatan tubuh sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan. Ditambah lagi, di masa pandemi ini kita harus menurunkan ego kita demi kesehatan orang lain dan diri sendiri.

Referensi

Chaturvedi, K, Vishwakarma, D & Singh, N. (2020). COVID-19 and its impact on education, social life and mental health of students: A survey. Journal of  Children and Youth Services Review, Vol. 121, pp. 1-6 

Permana, M, Koesyanto, H, & Mardiana. (2015). Faktor Yang Berhubungan Dengan Keluhan Computer Vision Syndrome (Cvs) Pada Pekerja Rental Komputer Di. Unnes Journal of Public Health, Vol. 4 No. 3, pp. 48–57.

Sasangohar, F, Wang, X, Smith, A, Hegde & Son, C. (2020). Effects of COVID-19 on College Students’ Mental Health in the United States: Interview Survey Study. [Online] Available at:<https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7473764/>[Accessed 11 April 2021]

Unicef. (2020). COVID-19 dan Anak-Anak di Indonesia: Agenda Tindakan untuk Mengatasi Tantangan Sosial Ekonomi. [Online] Available at:<https://www.unicef.org/indonesia/sites/unicef.org.indonesia/files/2020-05/COVID-19-dan-Anak-anak-di-Indonesia-2020_1.pdf>[Accessed 11 April 2021]

Staff    :    1. Yosephina Gracela Taji

            2. Ni Ketut Trisna Maha Augustia

Redaktur    : Pande Made Gita Wedayanti

Editor    : Fitria Rahmawati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *