Home » FK Unud » VSFT Learning: Wadah Mencetak Generasi Fisioterapis Profesional

VSFT Learning: Wadah Mencetak Generasi Fisioterapis Profesional

HM Fisioterapi FK Unud“Masa-masa paling membahagiakan adalah ketika masa menjadi mahasiswa. Maka pergunakanlah kesempatan ini untuk mengasah soft skill”, tutur Prof. Dr. dr. I Nyoman Adiputra, MOH., PFK di awal pemberian sambutan dan sekaligus membuka acara VSFT (Voluntary Sport Physiotherapy Team) Learning tahun 2014, yang berlangsung di Ruang 1.01 Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. VSFT Learning merupakan acara perdana yang diadakan dalam kurun waktu lebih dari sebulan, diawali dengan pembukaan yang berlangsung pada tanggal 15 Maret 2014 dan berakhir tanggal 24 April 2014. Acara ini dihadiri oleh 28 peserta yang terdiri 26 orang dari mahasiswa Fisioterapi angkatan 2013 dan dua orang mahasiswa Fisioterapi dari angkatan 2011.

“VSFT ini telah bergabung dalam Bidang VI Himpunan Mahasiswa (HM) Fisioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana sejak tahun 2014. VSFT Learning tahun ini mengangkat tema “Involving the Generation With Knowledge for Protect the Sport”. Selaras dengan tema yang diangkat, VSFT Learning merupakan rangkaian penerimaan peserta dari kalangan mahasiswa Fisioterapi yang nantinya akan siap bekerja di event-event kesehatan olahraga. Harapannya, peserta akan mengetahui tantangan di lapangan pasca pemaparan materi VSFT yang akan diberikan oleh para dokter, ahli fisioterapis dan para senior dari program studi Fisioterapi, ujar Ketua Himpunan Mahasiswa Fisioterapi Universitas Udayana”, A.A Gede Angga Puspa Negara.

Sambutan hangat juga turut diucapkan oleh Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Putu Andrie Setiawan. “Ini merupakan pertama kalinya setelah VSFT resmi diluncurkan pada Musyawarah bulan Desember 2013 lalu. Lahirnya VSFT menjadi tonggak awal penyaluran minta dan bakat mahasiswa Fisioterapi. Andrie berharap ada tim gabungan dari TBM, VNT, VFST bekerja sama secara berkesinambungan dalam event bersama khususnya bidang sport medicine, yang nantinya siap kapan pun dipanggil baik dari kalangan intern, yakni Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dan instansi-instansi luar lainnya. Fakultas Kedokteran Universitas Udayana tidak menutupi jika ada tiga bidang tim medis yang bergerak khusus bisa berjalan bersama dengan baik dalam jangka panjang. Semoga ada inisatif untuk berkembang walau baru pertama kali dan mampu menjalankan roda organisasinya secara mandiri dan mampu mencetak generasi penerus yang sudah memasuki angkatan ke empat, hingga menjadi tenaga-tenaga sport medicine yang siap kapan pun saat ada event tournament olahraga di Bali dan di Indonesia pada umumnya.

Senada dengan pernyataan Andrie, Prof Adiputra selaku ketua program studi Fisioterapi, menyatakan walaupun program studi Fisioterapi masih terbilang muda (angkatan ke-4), tapi dinamikanya sudah sangat bagus karena sudah mampu mencetak prestasi membanggakan, yakni meraih juara II dan Harapan I dalam perhelatan ilmiah beberapa waktu lalu. Berkat antusias, kerjasama, dan solidaritas, program studi Fisioterapi pernah mendapat kehormatan untuk menjadi tuan rumah Asosiasi Fisioterapi Seluruh Indonesia.

Di bidang kedokteran faal ada dua jejaring yang disegani di Indonesia, yakni Perhimpunan Pembina Kesehatan Olaharaga Indonesia (PPKOI) dan PIO (Pusat Informasi Olahraga). Sejak tahun 1968, lembaga-lembaga tersebut mempersatukan fisioterapis seluruh Indonesia untuk mengikuti setiap event Pekan Olahraga Nasional.

Kerja sama lintas bangsa khususnya bidang sport medicine penting dilakukan sejak dini agar ke depannya mampu mempersatukan fisioterapis maju ke event-event nasional. Ditambah lagi,  mengingat Pekan Olahraga Nasional (PON), ajang tournament pesta olahraga paling bergengsi di Indonesia ini yang diadakan tahun 2020 sudah hampir di depan mata. Dalam ajang inilah kita bisa mengambil banyak peran untuk menjadi praktisi kesehatan olahraga. Kembali lagi pada topik awal, bahwa sangat penting untuk mengasah soft skill di masa perkuliahan sebelum nanti benar-benar terjun ke masyarakat  Walau pintar di kelas tapi canggung dalam implementasi rasanya percuma saja.

“Masa menjadi mahasiswa adalah masa yang berbahagia, karena masih punya kesempatan untuk berbuat salah. Namun setelah menjadi tenaga professional apalagi menjadi staf pengajar, sudah tidak boleh melakukan kesalahan. Maka, manfaatkan ajang pembinaan softskill sebaik-baiknya untuk memperkaya wawasan karena hidup ini adalah asset”, tutupnya dengan penuh harap.

Article by: D. Indrasuari

Tinggalkan komentar