Home » Artikel » Kesehatan » Terkena gigitan kera, Waspada Rabies!

Terkena gigitan kera, Waspada Rabies!

Denpasar-Injeksionline.com Sering mengunjungi tempat-tempat wisata yang memiliki Kera liar terkadang perlu di perhatikan. Terkadang hewan kecil satu ini menganggu pengunjung dengan cara mengambil barang yang dibawa oleh pengunjung, bahkan apabila tak sampai terebut bisa-bisa terkena cakarannya atau bahkan gigitannya

 

Rabies mungkin saat ini sudah tak asing lagi di dengar oleh kalangan masyarakat, bahkan hampir di seluruh daerah yang endemik terkena penyakit satu ini sudah memiliki penanganan tersendiri untuk pencegahannya yang umumnya ditularkan oleh gigitan anjing. Namun, ternyata penularan virus rabies tak hanya pada anjing saja namun pada kera pun bisa ditularkan. Nah, mungkin saat ini orang mengenal virus rabies hanya ditularkan oleh anjing, ternyata tidak, awal mula terjadi penularan virus ini adalah terinfeksinya anjing atau kera oleh virus rabies yang merupakan genus dari Lyssa-virus dan famili dari Rhabdovirus ada 11 jenis virus yang secara antigenik yang mirip virus rabies dan menginfeksi manusia adalah virus rabies, Mokola, Duvenhage, dan Europan  Bat Lyssa-Virus.Dia di klafisikasikan genotip 1, serotip 1 pada genusnya. Penyakit ini menyerang sistem susunan saraf pusat yang pada akhirnya selalu berujung kepada kematian.

 

Cara terinfeksinya :

Biasanya melalui kontak dengan binatang seperti anjing, kera, kucing dll, melalui gigitan binatang atau kontak virus (saliva binatang) dengan luka pada host atau melalui membrane mukosa. Cara penularan lainnya adalah dengan melalui inhalasi dimana dilaporkan terjadinya infeksi rabies yaitu orang yang mengunjungi gua kelelawar tanpa melalui gigitan.  Dapat pula terjadi karena kecelakaan labolatorium.

Masa diam dari virus ini umumnya antara 3-4 bulan, dimana bisa bervariasi antara 7 hari, 7 tahun hanya 1% kasus dengan masa diam yang sampai 7 tahun. Pada penderita rabies umumnya mengalami tingkat keparahan penyakit yang dibagi menggunakan stadium menjadi :

–          Stadium Prodromal

Stadium ini berlangsung selama 1-4 hari yang bisanya tidak menimbulkan gejala spesifik namun hanya ada gejala umum yang muncul seperti demam menggigil, nyeri, susah menelan, sakit kepala

–          Stadium Neurologi akut

Pada stadium ini pasien sudah menjadi hiperaktif, disoreintasi, mengalami halusinasi dan bertingkah aneh. Gejala hiperaktif dapat terjadi apabila pasien kontak langsung dengan cahaya, mendengar suara, tiupan udara atau kontak dengan sesuatu yang membuatnya merasa tergugah. Kemudian apabila pasien diberikan air minum (air putih) maka otot-ototnya akan menegang di otot faringnya sehingga pasien akan mengalami phobia pada air (hydrophobia). Apabila pada stadium ini pasien tidak meninggal, maka 20% pasien akan masuk stadium paralitik yang ditandai oleh deman,sakit kepala, badan akan terasa kaku, lalu bisa mengakibatkan kejang-kejang. Pada stadium neurologi akut akan terjadi selama 2-7 hari dengan fase paralitik yang lebih panjang

–          Stadium Koma

Apabila pasien tidak meninggal pada stadium paralitik maka pasien akan koma yang dapat terjadi dalam 10 hari. Apabila tidak ditangani dengan baik maka pasien akan meninggal.

 

Penanganan dan Pencegahan Rabies :

Tidak ada terapi untuk penderita yang sudah menunjukkan gejala rabies, penanganannya hanya berupa tindakan suportif saja. Penderita rabies dapat diberikan obat-obat sedative dan analgesic secara adekuat untuk memulihkan ketakukan dan nyeri yang terjadi.

Namun,untuk pencegahannya lebih bisa dikerjakan dibandingkan yang sudah menimbulkan gejala. Apabila pasien digigit oleh kera/anjing segera lakukan perawatan luka yaitu dengan dicuci sabun diberikan disinfektan seperti alkohol 40-70%. Selanjutkan dapat melakukan vaksinasi post-exposure dasar vaksinasi ini adalah untuk menetralkan antibody terhadap virus rabies dapat segera terbentuk dalam serum setelah masuknya virus kedalam tubuh dan sebaliknya terdapat dalam titer yang tinggi selama setahun sehubung dengan panjangnya inkubasi penyakit. Penetralan antibody tersebut dapat berasal dari imunisasi pasif dengan serum anti rabis atau secara aktif diproduksi oleh tubuh.

Ada 2 jenis vaksim rabies :

–          VAR       : a. Nerve tissue vaksin (NTV) yang berasal dari otak hewan dewasa seperti kelinci,

kambing, domba

b. non Nerve tissue vaccine yang berasal dari telur itik bertunas dan vaksin yang berasl

dari biakan jaringan seperti Human Diploid Cell Vaccine (HDCV).

Untuk gigitan ringan diberikan vaksin daja sudah cukup tetapi untuk kasus gigitan yang parah kombinasi vaksin dan serum anti rabies (SAR) adalah yang paling ideal memberikan proteksi yang jauh lebih baik dibandingkan vaksin biasa.

 

Vaksinasi Pre-expossure untuk menghindari infeksi virus rabies, disamping itu pemberian VAR setelah mendapat gigitan binatang tersangka rabies, pencegahan lebih dini juga dapat dilakukan dengan memberikan suntikan yang sama tetapi dengan waktu, cara dan dosis yang berbeda melalui profilaksis Pre-expossure.

 

(sumber : Harrison. 1999. Ilmu Penyakit Dalam Jilid 3. EGC Emergency Arcan Buku Kedokteran)

Articles by: @Lyaachan; Edited by: @dedekfriday @amiiikkk

Tinggalkan komentar