IT Pcyco/ March 30, 2018/ FK Unud, Injeksi, Injeksi Post/ 0 comments

Pewarta : Dayu Indah

Arsip Foto. Forum dalam Pojok Diskusi Penggalian Dana di Fakultas Kedokteran Univeristas Udayana, Bali. (FOTO INJEKSI ONLINE/Dayu Indah)

Denpasar(Injeksi Online)-Departemen Kajian Strategis dan Advokasi BEM Fakultas Kedokteran Universitas Udayana mengadakan suatu kegiatan baru yaitu Pojok Diskusi Penggalian Dana yang membahas mengenai Penggalian Dana di FK. Judul dari kegiatan ini adalah “Pengda, Penggalian Dana atau Pengurasan Dana” yang diadakan di Ruang 4.01 Gedung FK Barat.

Dalam diskusi ini Fakhri Barustan sebagai Ketua BEM FK menyatakan bahwa total Program Kerja yang dimiliki seluruh lembaga di FK adalah sebanyak 365. Dengan adanya program kerja sebanyak ini FK termasuk dalam Fakultas yang memiliki program kerja terbanyak sedangkan sumber dana dari kemahasiswaan adalah 83,7 juta untuk menjalankan program kerja tersebut yang dibagikan merata untuk total 15 lembaga yang ada di FK.

Namun dengan perbandingan program kerja yang sangat membludak ini, jumlah dana yang disediakan tidak seimbang. Dengan demikian lembaga-lembaga kemahasiswaan menyelamatkan diri mencari solusi untuk memenuhi kebutuhan dana yang diperlukan untuk prokernya masing-masing. Pengadaan seminar, bazzar, dan penjualan pengda makanan merupakan beberapa solusi yang diterapkan. Dengan mengadakan acara seperti seminar, bazzar dan pengda makanan ini mendatangkan keuntungan yang banyak bahkan dapat berlipat-lipat, namun di sisi lain, hal ini juga memberatkan pada mahasiswa FK sendiri terutama panitia. Hal ini seringkali membebani mahasiswa untuk wajib menjual pengda yang dilaksanakan, dan menjual tiket dengan kedok timbal balik dengan teman yang dahulu juga telah membeli pengdanya atau hanya dengan tujuan mendapat SKP padahal sebenarnya dibalik itu seminar juga menyediakan ilmu dari narasumber yang kerap luput disadari. Apakah karena mahasiswa yang malas berinovasi atau program kerja yang membludak ini harus dikurangi?

“Acara yang diadakan terlalu besar, itu membebani kita, sebagai panitia kita sudah lumayan berat ditambah lagi untuk menjual seminar, bazar atau pengda tersebut. Kita yang menjual tapi kita dari FK juga yang membeli, karena biasanya kita akan menjualnya kepada teman kita di FK”, pendapat salah satu mahasiswa yang mengikuti diskusi.

BPM juga menyatakan “Sebaiknya program kerja harus menyesuaikan dengan dana yang tersedia, sehingga jika kita memang sudah siap kita tidak akan kekurangan dana, namun kalau kita tidak siap akan acara tersebut kita pasti akan kekurangan dana. Jangan sampai kita memaksa teman kita untuk membelinya”. Sedangkan saran yang masuk ke BPM yaitu agar membuat regulasi dari penggalian dana di lingkungan FK.

“Menjaga hubungan baik dengan sponsor penting untuk dilakukan, menjaga komunikasi dengan mereka bahkan sesudah acara selesai dan saling membantu antar lembaga mengenai informasi pihak sponsor”, saran dari Ketua BEM FK.

Jadi intinya terdapat beberapa masalah yang dihadapi dalam memenuhi kekurangan pendanaan di FK yaitu kesulitan mencari dan pematangan mendapatkan sponsor dan dana karena sedikit dana dari kemahasiswaan sehingga kita terpuruk dan menguras kantong panitia. Solusi dari diskusi ini adalah dengan mendatangkan pembicara yang menarik atau terkenal dalam seminar penggalian dana, guest star atau dengan mengadakan acara tersebut di luar lingkungan FK, serta menjaga hubungan dengan pihak sponsor. Jangan sampai demi menyukseskan acara hingga memeras diri sendiri. Karena acara dapat sukses dengan tanpa memeras diri melainkan dengan mencari solusi bersama.

Arsip Foto. Forum dalam Pojok Diskusi Penggalian Dana di Fakultas Kedokteran Univeristas Udayana, Bali.

Arsip Foto. Forum dalam Pojok Diskusi Penggalian Dana di Fakultas Kedokteran Univeristas Udayana, Bali.

Arsip Foto. Forum dalam Pojok Diskusi Penggalian Dana di Fakultas Kedokteran Univeristas Udayana, Bali.

Editor : Gusti Ayu Tika

Tinggalkan komentar