Home » Artikel » Pictorial Health Warning: Sudah Waktunya “Melek” Bahaya Merokok

Pictorial Health Warning: Sudah Waktunya “Melek” Bahaya Merokok

Penyelenggaraan Kampanye Rokok Bergambar

Penyelenggaraan Kampanye Rokok Bergambar

“Mencegah perokok pemula dan mengendalikan bahaya merokok bukanlah perkara mudah. Sebelum rasa sakit melewati rasa takutnya, manusia tidak akan sadar. Metamorfosis perubahan perilaku berawal dari paksaan, lalu seseorang akan merasa terpaksa, kemudian bisa dan akan terbiasa sehingga dapat melahirkan sebuah budaya. Begitu pula dalam mewujudkan sosialisasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Bali yang akan membutuhkan metamorfosis sedemikian rupa”.

Bertepat di depan Monumen Perjuangan Bajra Sandhi Renon Denpasar, tengah berlangsung acara Kampanye Kegiatan Rokok Bergambar: Pictorial Health Warning pada Hari Minggu (16/02) 2014. Acara ini diselenggarakan oleh Konsultan Komunikasi Edelman bekerja sama dengan Komunitas Mahasiswa Peduli Tembakau Universitas Udayana sebagai promotor. Tampak sejumlah pejabat penting dari berbagai kalangan turut berpartisipasi memperingati kampanye ini, diantaranya Gubernur Provinsi Bali, Ketua Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, Kepala Ditjen PP dan PL Kementerian Kesehatan RI, Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Lembaga Perlindungan Anak (LPA), Rektor Universitas Udayana beserta jajarannya, dan hadirin undangan lainnya. Penyelenggaraan kampanye ini sebagai bentuk aktualisasi Perda Kawasan Tanpa Rokok No. 10 Tahun 2011.

Kampanye Rokok Bergambar ini dilaksanakan dengan kegiatan longmarch di seputaran Renon dan pengisian kuisioner untuk mengetahui sejauh mana kesadaran masyarakat mengenai bahaya merokok dan pentingnya mencantumkan gambar penyakit akibat merokok yang rencananya 40% akan terpampang pada setiap kemasan rokok yang beredar di Indonesia, dengan harapan masyarakat semakin mengetahui bahaya merokok dan dapat memberikan efek jera pada perokok pemula. Pencantuman gambar penyakit pada pembungkus rokok akan direalisasikan mulai 24 Juni 2014 dan sudah mendapat kesepakatan bersama dengan pihak perusahaan rokok. Peraturan Kawasan Tanpa Rokok merupakan implementasi dari Undang-Undang Republik Indonesia, dilaksanakan pasca keluarnya PP No. 109 tahun 2012. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 menunjukkan bahwa terjadi kebiasaan merokok pada usia 15-19 tahun sebesar 3 kali lipat, dimana kenaikan pada perokok remaja pria sebesar 20,3%. Maka penanggulangan rokok akan menghasilkan efektivitas yang tinggi jika semua program dan aturan dilakukan secara komprehensif, tutur Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), MARS, DTM&H, DTCE selaku Kepala Ditjen PP dan PL Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Pemberlakuan Kawasan Tanpa Rokok di Bali mendapat apresiasi tinggi dari Gubernur Provinsi Bali, I Made Mangku Pastika. Beliau menghimbau kepada masyarakat untuk mengurangi bahkan berhenti merokok karena asap rokok yang bersifat karsinogenik tentu akan merusak kesehatan. Terbukti dari adanya hubungan kausal antara perilaku merokok dengan penyakit mengalami peningkatan tajam. Ironisnya, para remaja sering terpapar oleh iklan rokok yang dapat berpengaruh buruk terhadap psikologis remaja. Dan mulai hari ini (16/02) 2014 akan langsung diberlakukan kawasan tanpa rokok pada wilayah di bawah naungan Pemerintah Provinsi Bali meliputi perkantoran, sekolah, dan fasilitas tempat umum lainnya.

Ucapan terima kasih dan rasa bangga kepada seluruh panitia pelaksana Kampanye Rokok Bergambar juga dilayangkan oleh Rektor Universitas Udayana, Prof.Dr.dr. Ketut Suastika, Sp.PD-KEMD. Beliau memaparkan bahwa mempersempit ruang rokok adalah cara terbaik karena sulitnya usaha menghilangkan produsen rokok akibat faktor lingkungan yang kuat.

Suksesnya penyelenggaraan Kampanye Rokok Bergambar ini tentu tidak terlepas dari peranan dan kerja keras panitia pelaksana dari Komunitas Mahasiswa Peduli Tembakau (KMPT) di bawah koordinasi dari Himpunan Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana. Harapan dari Ketua Komunitas Mahasiswa Peduli Tembakau, Guseka Arya Cyuta berharap dampak positif pasca terselenggaranya Kampanye Rokok Bergambar ini mampu menyadarkan masyarakat mengenai bahaya merokok, dengan sasaran utama para perokok pemula agar merasa ‘jijik’ dan mengurungkan niatnya untuk merokok karena secara visual terpampang gambar penyakit akibat merokok pada setiap kemasan rokok. Jadi, peringatan bahaya merokok tidak hanya sekedar wacana. Dan berharap pula agar para perokok aktif untuk berusaha mengurangi kebiasaan merokok agar perlahan mampu melepaskan diri dari jeratan bahaya merokok. Tak lupa, pihak Komunitas Mahasiswa Peduli Tembakau mengucapkan terima kasih kepada LSM Indonesia Bebas Rokok dan Lembaga Perlindungan Anak yang telah banyak berkontribusi dalam terselenggaranya acara ini. (D. Indrasuari)

Tinggalkan komentar