Home » Featured » Peringatan Hari Pers Nasional Ke-27

Peringatan Hari Pers Nasional Ke-27

Denpasar, Mungkin beberapa hari kebelakang bagi rekan yang menggunakan salah satu smartphone dengan fitur chatting-nya sempat menerima pesan berantai mengenai bagaimana kekuatan pers dapat meruntuhkan martabat seorang dokter, ataupun mengenai bagaimana kasus politik yang digembor-gemborkan oleh pers. Tidak bisa dipungkiri bahwa memang benar peranan pers sampai saat ini bisa dikatakan amatlah vital, tanpa adanya fungsi pers maka penyebaran informasi akan menjadi basi dan tidak meluas. Namun, apakah benar jika pers terlalu blow up  bahkan sampai meruntuhkan hakekat sebuah profesi, instansi bahkan sistem perundangan?. Belum lagi pers menjadi sarana kepentingan orang perorangan, dimana indepedensi mereka?. Bagi mahasiswa kedokteran calon praktisi kesehatan pers jelas menjadi sarana kita untuk menuangkan aspirasi kita tentang apa yang tidak sesuai dengan ilmu kita. Contohkan saja masalah Rancangan Undang-Undang Pendidikan Dokter, lalu tentang masalah internship, pers merupakan line terdepan yang digunakan sebagai kritik membangun kepada pemerintah.

Sampai sejauh ini, hingga akhirnya mencapai tahun ke-27 dalam peringatan Hari Pers Nasional saat ini, kita harus cukup berbangga bagaimana mulanya kebebasan pers yang begitu dikekang akhirnya bisa berkembang hingga menjadi salah satu bahan pertimbangan baik dari pemerintah maupun masyarakat untuk mengambil sebuah keputusan. Badan Pers Nasional Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (BPN ISMKI) selaku badan penghimpun resmi yang menaungi serta membina seluruh lembaga pers mahasiswa Fakultas Kedokteran se-Indonesia dianggap menjadi tolak ukur penting dalam pemikiran mahasiswa Kedokteran.

 

Di tahun 2013 ini, BPN ISMKI dibawah kepemimpinan Fathonah Agung mahasiswa Universitas Hassanudin memiliki tekad kuat untuk mengembalikan lagi independensi dari pers “Pers memang harus bebas dan berdiri sendiri, namun mutlak kebebasannya tidak boleh melanggar kode etik jurnalistik maupun pancasila. Prinsipnya apa yang disampaikan merupakan fakta dan teraktual, opini yang dipaparkan harus dengan bukti. Jangan menjadikan sesuatu terlalu berlebihan, sehingga melupakan poin lainnya dan menimbulkan ketidakseimbangan pers”.ujarnya.

 

“Tuhan baru itu, bernama pers”, mungkin penggalan itu yang kini santer kita dengar. Bagaimana pers bisa menjatuhkan posisi seseorang benar-benar jatuh, lalu bagaimana pers mengubah pandangan dan pola pikir seseorang, bahkan mengubah keyakinan mereka. Lalu bagaimana?. Hari Pers Nasional pada dasarnya merupakan perwujudan usaha keras dan tanpa henti dari Persatuan Wartawan Indonesia agar pers menjadi didengar dan bebas secara independensi.

 

Bagaimana dan apa pers adalah bagaimana kita menganalogikannya. Berita, informasi, kabar merupakan hasil pengolahan seorang pekerja pers maka tidak menutup kemungkinan pemikiran mereka akan sedikt masuk dan berimbas pada apa yang mereka kerjakan. Jadi kembali pada para konsumen dari hasil pers ini, bagaimana pemikiran dan pengembangan mereka. “Pers, khususnya pers mahasiswa harus bisa lebih baik dan berkembang serta menjadi salah satu quality control  kepada mereka yang memegang tanggung jawab. Hidup Pers Mahasiswa!”, imbuh Tona diakhir wawancara.

 

By: @kemala_manuaba

Edited by: @dedekfriday

About renywahyusari

Tinggalkan komentar