Home » Injeksi Post » PEDULI SCHIZOPHRENIA

PEDULI SCHIZOPHRENIA

1444374738554

Perkembangan penduduk Indonesia yang cukup pesat namun tidak diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu faktor yang terkait dengan kesehatan masyarakat. Sehatnya seseorang dapat dinilai dari keadaan psikis, fisik, dan juga sosialnya. Memperingati hari Kesehatan Jiwa se-Dunia yang jatuh setiap 10 Oktober mengingatkan kita bahwa psikis atau kejiwaan seseorang menjadi salah satu faktor penting dalam melakukan kegiatan fisik dan sosial.

 

Berbagai tekanan yang dialami seseorang bisa mengganggu keadaan psikisnya dan pada beberapa kasus dalam jangka waktu tertentu dapat menyebabkan gangguan jiwa. Perhatian kepada penyakit gangguan jiwa di Indonesia, khususnya Schizophrenia masih kurang. Pasien dengan Schizophrenia terkadang tidak mendapat perawatan yang tepat, bahkan pada beberapa kasus orang dengan Schizophrenia malah dikurung dan dikucilkan. Melihat dari fenomena tersebut, peduli Schizophrenia merupakan hal yang perlu digalakkan dan menjadi topik bahasan untuk memperingati hari Kesehatan Jiwa se-Dunia kali  ini.

 

Schizophrenia merupakan kelainan psikiatrik kronis, termasuk dalam gangguan mental yang berat. Penyebab dari Schizophrenia bisa berasal dari faktor genetik dan lingkungan sosial yang dapat mengganggu kejiwaan seseorang. Faktor keluarga memegang peranan dalam Schizophrenia, karena keluarga menjadi kelompok sosial pertama yang mendidik dan memberikan pelajaran kepada seorang individu sejak awal kehidupan.

 

Faktor psikososial dan stress juga memengaruhi perkembangan Schizophrenia. Lingkungan yang mengakibatkan stress membuatnya gagal dalam melakukan penyesuaian diri dan pada akhirnya dapat memunculkan gejala-gejala Schizophrenia.

 

Pasien dengan Schizophrenia memiliki gejala khas, terutama terkait komunikasi verbal. Gejala-gejala tersebut antara lain:

  1. Sering menggunakan bahasa yang tidak tepat atau bersifat tidak akurat.
  2. Berbicara kacau yang tidak dimengerti oleh lawan bicara.
  3. Berbicara ataumenjawab pertanyaan diluar konteks pembicaraan, dengan kata lain tidak terjadinya kesinambungan dalam percakapan dengan pasien Schizophrenia.
  4. Bahasa yang digunakan tidak runtut atau tidak beralur.
  5. Tidak memerhatikan budaya dan etika dalam masyarakat saat berkomunikasi.

 

Pasien dengan Schizophrenia harus mendapatkan penanganan yang tepat. Terapi yang dilakukan memiliki tujuan untuk pemulihan. Semakin dini deteksi dan terapi yang diberikan, semakin baik pula pejalanan penyakit pasien ke depannya. Pemulihan dapat dicapai baik dari segi fungsi mental maupun fisik. Pemulihan dikatakan berjalan baik jika gejala Schizophrenia hilang, pasien dapat menjalankan fungsi fisik (pekerjaan), menjalankan kehidupan madiri dalam hal melakukan suatu hal sendiri, dan membangun relasi yaitu hubungan sosial dengan lingkungan.

 

Keluarga menjadi salah satu aspek yang berperan penting dalam proses pemulihan ataupun terapi. Terjalinnya komunikasi antarkeluarga dengan pasien dapat memberikan dampak positif yang membantu dalam tahap pemulihan.

 

Jadi, orang dengan penyakit Schizophrenia ataupun gangguan mental seharusnya mendapatkan terapi ataupun pengobatan yang layak seperti dibawah ke Rumah Sakit Jiwa dan bantuan komunikasi antarkeluarga menjadi salah satu jembatan menuju pemulihan. Pengekangan atau pengucilan bagi pasien dengan gangguan jiwa bukanlah hal yang bisa menekan angka kesakitan atau memberikan efek penyembuhan, melainkan dapat menambah kekacauan pada psikisnya. Melalui peringatan hari Kesehatan Jiwa se-Dunia, mari tingkatkan kepedulian terhadap pasien Schizophrenia karena mereka juga bagian dari kehidupan ini, merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang jika sakit perlu perawatan dan bukan pengucilan. (RahayuWinda)

 

Sumber :

  1. Jurnal Penelitian Terapi Keluarga untuk Peningkatan Komunikasi Verbal pada Orang dengan Schizophrenia Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta
  2. Artikel Penelitian Gambaran Kebutuhan Hidup Penyandang Schizophrenia Departemen Psikiatri, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
  3. Jurnal Penelitian Gambaran Dermatoglifi Tangan Pasien Schizophrenia di Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum Martapura Kalimantan Selatan Fakultas Kedokteran UNLAM

Tinggalkan komentar