MATI RASA PELAKU PSIKOPAT DALAM NOVEL NAPAS MAYAT

Halo, Sobat Injeksi! Membaca novel bukan jagoanku, tetapi tika perdana jumpa “Napas Mayat” rasa turunkan ego memangku. Pepatah ucap “jangan nilai buku dari sampulnya,” tetapi sampul novel ini timbulkan banyak tanya. Napas mayat, napas dan mayat. Apakah ini sebuah korelasi atau analogi? Sebetulnya novel ini tentang apa sih?

Napas Mayat menceritakan tokoh aku yang hidup dalam mewah. Namun, degenerasi nasib terjadi saat satu per satu orang tuanya pergi. Alur pun berlangsung gulita. Si hitam datang, membaur dan mendaur tokoh aku. Meski mereka dalam satu raga, tetapi cita saling menggoda. Terdapat pula tokoh mama besar, tokoh yang menganggap si aku tanah. Garis kemanusiaan si aku telah dikuasai hitam. Tak sungkan si aku memangsa daging dan mengawetkan kepala mama besar. Hal serupa juga terjadi pada Marbun, rekan kerja si aku. 

Di tempat kerjanya, Sarah merupakan cerminan versi betina dari tokoh aku. Hal ini menyebabkan mereka melampiaskan rasa sesal dengan senggama tanpa jalin hati. Suatu ketika, si aku mengalami kecelakaan yang menyadarkannya mengenai kejamnya aksi. Selama ini Novia, kekasih pertamanya, masih mencintai sama seperti di awal. Begitu pula dengan Sarah, wanita tanpa jalin hati, tetapi menanti saat masa terpuruknya. Di sinilah tokoh aku menyadari bahwa bukan dunia yang kejam padanya. Namun, dia yang salah mengartikan makna kehidupan.

Salah satu hal yang paling menarik adalah ketika si aku tertekan dan si hitam (dirinya yang lain) mengelabui. Melihat kondisi ini, hipokampus memproduksi lebih banyak hormon kortisol saat stres. Tak hanya itu, thalamus, amigdala, dan otak depan yang berperan mengatur sensorik juga terganggu. Stres, menurut psikologi, diartikan sebagai keadaan tertekan, baik secara fisik maupun psikologis, yang bersumber dari frustasi/konflik dan gejala awal yang diakibatkan stres adalah emosi tidak stabil yang bisa membuat seseorang menjadi sulit mengambil keputusan. Seseorang yang mengalami stres akan mencari jalur alternatif, seperti tokoh aku yang menciptakan si hitam sebagai pemegang keputusan. 

Pelaku dalam novel ini memiliki sifat agresif dan sering bertindak impulsif. Hal ini merupakan hal wajar pada pelaku psikopat. Secara fisiologis, seseorang dengan psikopat memiliki dunia yang lebih realistis dibandingkan individu lain yang tidak memiliki psikopat. Jika hal ini terus terjadi, maka interaksi akan pasif, sehingga rasa ingin menghabisi semakin berambisi. 

Novel ini juga menceritakan tentang si aku yang di penjara setelah mengakui kesalahan dan dihukum mati setelah semua ujarannya diungkapkan. Bila meneliti lebih rinci, seseorang yang telah mengalami depresi masalah hidup, lalu ditekan dengan jeruji dan euthanasia paksa menyebabkan penderita semakin remuk.

Nah, bagaimana cerita tentang novel ini, mencekam bukan? Selain belajar mengenai kejiwaan penderita depresi, pesan moral, seperti menjaga hubungan antarsesama menjadi kunci pola pikir seseorang. Bila lingkungan sosial bagai parasit, maka niscaya rasa dendam tak henti membesit. Maka dari itu, ciptakan suasana yang positif agar pemikiran primitif dendam hanya menjadi latar fiktif.

Oh ya Sobat Injeksi, setelah membaca ulasan ini, jangan lupa ceritakan pengalaman kalian di kolom komentar ya bila pernah dalam situasi serupa di dunia nyata sebab dari “cerita orang” kita dapat belajar mengenai situasi orang yang bercerita. Hal juga ini akan berdampak pada saat kita mengimplementasikannya di kehidupan. 

Judul Novel: Napas Mayat

Penulis Novel: Bagus Dwi Hananto 

— 

Artikel ditulis oleh Monica

Redaktur: Prima

Editor: Ratih 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *