Home » Artikel » Lewatkan Sarapan, Awas Sindrom Metabolik

Lewatkan Sarapan, Awas Sindrom Metabolik

Sebenarnya seberapa penting sih sarapan itu?

Seperti pepatah kuno “sarapan laksana raja, makan siang laksana pangeran, dan makan malam laksana budak” dapat mewakili pentingnya sarapan bagi kehidupan. Sayangnya sebagian orang belum menyadari hal tersebut, bahkan banyak diantaranya sengaja meninggalkan kebiasaan sarapan karena kesibukan di pagi hari. Tak jarang pula dijumpai orang yang enggan sarapan dengan alasan takut kelebihan berat badan. Pendapat tersebut salah besar, sebab justru tanpa sarapan, kalori yang disantap bisa lebih banyak. Tanpa sarapan, metabolisme tubuh dan pembakaran lemak akan menurun sehingga nafsu makan siang akan meningkat. Tubuh yang merasakan sensasi lapar dapat membuat anda menambah asupan camilan sehingga kalori yang masuk dalam tubuh meningkat.

Menurut beberapa penelitian, salah satunya dari Universitas Alabama, Birmingham, Inggris, menghasilkan sarapan yang bergizi ternyata dapat mencegah terjadinya sindrom metabolik. Penelitian yang melibatkan tikus sebagai subjeknya ini menemukan bahwa tikus yang mendapat makanan pagi dengan kandungan asupan cukup memiliki sistem metabolisme yang baik dan lebih mudah dalam mencerna makanan apapun sepanjang hari. Sedangkan tikus yang mendapatkan makanan pagi yang sama dan dilanjutkan makan siang dengan lemak tinggi ditemukan mengalami kelebihan berat badan, intoleransi glukosa, dan berujung pada serangan sindrom metabolik.

Apa itu sindrom metabolik?

Istilah sindrom metabolik masih terdengar asing di telinga masyarakat awam, padahal insiden kejadiannya tidak dapat dikatakan jarang. Menurut beberapa penelitian, diperkirakan 1 dari 4 orang dewasa berusia 40 tahun ke atas di Indonesia  memiliki sindrom ini.

Sindrom metabolik adalah kombinasi dari gangguan medis yang meningkatkan risiko terkena penyakit kardiovaskuler dan diabetes. Sindrom ini juga dikenal dengan sebutan X sindrom metabolik, sindrom X, sindrom resistensi insulin, sendrom Reaven, dan CHAOS (Australia). Berdasarkan the National Cholesterol Education Program Third Adult Treatment Panel (NCEP-ATP III), sindrom metabolik adalah seseorang yang memiliki minimal tiga dari kriteria berikut:

  1. Obesitas abdominal (lingkar pinggang >88 cm untuk wanita dan >102 cm untuk pria.
  2. Peningkatan kadan trigliserida darah (?150 mg/dL atau ?1,69 mmol/L).
  3. Penurunan kadar kolesterol HDL (<40 mg/dL atau <1,03 mmol/L pada pria dan <50 mg/dL atau <1,29 mmol/L).
  4. Peningkatan tekanan darah (tekanan darah sistolik ?130 mmHg, tekanan darah diastolic ?85 mmHg atau sedang mengonsumi obat antihipertensi).
  5. Peningkatan glukosa darah puasa (kadar glukosa puasa ?110 mg/dL atau 6,10 mmol/L atau sedang mengonsumsi obat antidiabetes).

Jika anda memiliki 3 dari 5 kriteria di atas, patut waspada dan harus segera menerapkan pola hidup sehat serta konsultasi dengan dokter untuk pengobatan. Mulai konsumsi makanan di pagi hari untuk mengawali aktivitas anda. Selain itu olahraga teratur, menurunkan berat badan, menerapkan diet sehat, dan menghentikan kebiasaan merokok juga harus diterapkan. Bagaimana pun, mencegah lebih baik daripada mengobati. Tidak mau kan hari tua anda dibayangi oleh diabetes mellitus tipe II, jantung koroner, hipertensi, dan stroke? Mari tumbuhkan kesadaran demi kesehatan bersama. Mulai kapan? Ya, mulai sekarang!

Oleh: @yuliantini_

Sumber:

Anonim. Manfaat Sarapan. www.sanglahhospitalbali.com/v1/informasi.php?ID=19. Diakses tanggal 9 Februari 2014.

Anonim. Apa itu Sindrom Metabolik?. www.news-medical.net/health/What-is-Metabolic-Syndrome-(Indonesian).aspx. Diakses tanggal 9 Februari 2014.

Anonim. Sindrom Metabolik. prodia.co.id/penyakit-dan-diagnosa/sindrom-metabolik. Diakses tanggal 9 Februari 2014.

Universitas Sumatera Utara. 2011. repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25508/4/Chapter%2011.pdf. Diakses tanggal 9 Februari 2014.

 

Tinggalkan komentar