Kenali Bahaya Malnutrisi pada Balita : Cegah agar Tidak Terjadi

Balita, mendengar kata ini kita terbayang dengan tingkah lucu mereka, bukan? Berlarian kesana kemari dan penuh rasa ingin tahu di setiap langkahnya. Orang tua yang memiliki balita demikian pasti sangat senang melihat buah hatinya tumbuh dan berkembang dengan sehat. Namun, sadarkah Anda sebagai orang tua, bahwa makanan yang Anda berikan sangat berpengaruh pada tumbuh kembang balita? Pemberian makanan dengan gizi yang minim atau berlebih ternyata berdampak buruk pada si buah hati. Ingin tahu, informasi selengkapnya, yuk simak artikel berikut.
Apakah yang dimaksud dengan malnutrisi?
Malnutrisi merupakan keadaan tubuh tidak mendapat asupan gizi yang cukup sehingga tubuh kekurangan zat gizi tersebut. Selain itu, malnutrisi juga dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan antara konsumsi makanan dengan kebutuhan gizi untuk mempertahankan kondisi tubuh sehat. Hal ini berpotensi terjadi karena asupan makan sedikit ataupun konsumsi makanan yang tidak seimbang. Kekurangan gizi dalam tubuh dalam jangka waktu panjang dapat menyebabkan malabsorpsi makanan atau kegagalan metabolik (Katrin H dkk., 2017). Malnutrisi juga menunjukkan kondisi kelebihan maupun kekurangan konsumsi terhadap zat gizi esensial tertentu (Budiningsari). Gizi buruk ringan umumnya ditemukan pada balita berusia 9 bulan sampai 2 tahun, tetapi hal ini juga dapat ditemukan pada anak yang lebih besar (Krisnansari, 2010).

Faktor risiko apa sajakah yang menyebabkan malnutrisi?
Faktor risiko malnutrisi merupakan penyebab terjadinya malnutrisi pada balita. Adapun faktor risiko tersebut meliputi zat gizi yang terkandung dalam makanan, terjadinya penyakit yang menyebabkan infeksi, keluarga dengan status ekonomi rendah, minimnya pengetahuan terhadap konsumsi gizi yang baik, penyakit bawaan lahir, ketersediaan pangan yang bergizi dan terjangkau oleh masyarakat, perilaku dan budaya dalam pengolahan pangan, serta perawatan kesehatan yang kurang memadai. Keseluruhan faktor risiko tersebut saling berkaitan dengan menurunnya konsumsi gizi pada balita sehingga berpotensi menimbulkan malnutrisi (Candra, 2017).

Bagaimanakah kondisi klinis yang disebut sebagai malnutrisi?
Gangguan kesehatan akibat kekurangan atau kelebihan zat gizi dapat dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan kuantitas nutrisi dalam tubuh meliputi penyakit kurang kalori protein dan kegemukan (Adnani, 2011).
Penyakit Kurang Energi Protein (KEP)
Penyakit KEP dapat dibedakan menjadi tiga jenis meliputi marasmus, kwasiorkor, dan marasmus-kwasiorkor (Adnani, 2011).
Marasmus
Adapun gejala klinis pasien marasmus, meliputi sangat kurus, wajah seperti orang tua, cengeng, rewel, kulit keriput, jaringan lemak bawah kulit sangat sedikit, diare kronik atau konstipasi, tekanan darah rendah, dan pernafasan berkurang (Adnani, 2011).
Kwasiorkor
Adapun gejala klinis pasien kwasiorkor, meliputi pembengkakan diseluruh tubuh dan terutama pada kaki, wajah membulat dan sembab, otot-otot mengalami pengecilan, perubahan status mental seperti cengeng, dan rewel, sulit makan, pembesaran organ hati, penyakit infeksi, anemia, diare, rambut berwarna kusam dan mudah rontok, gangguan kulit berupa bercak merah yang meluas dan berubah menjadi hitam terkelupas, dan pandangan mata tampak sayu (Adnani, 2011).
Marasmus-kwashiorkor
Gejala marasmus-kwasiorkor merupakan gabungan dari gejala marasmus dan kwasiorkor yang menunjukkan kondisi kekurangan energi dan protein sangat parah (Adnani, 2011).
Penyakit kegemukan (obesitas)
Obesitas merupakan kelebihan berat badan sebagai akibat konsumsi karbohidrat dan lemak berlebihan sehingga penyimpanan lemak dalam tubuh berlebihan. Balita dengan berat badan 20% lebih tinggi dari nilai tengah kisaran berat badan normalnya dianggap mengalami obesitas. Penggolongan obesitas menurut persentase kelebihan berat badannya dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu (Adnani, 2011):
Obesitas ringan: kelebihan berat badan 20-40%.
Obesitas sedang: kelebihan berat badan 41-100%.
Obesitas berat: kelebihan berat badan > 100%.

Bagaimanakah langkah preventif untuk meminimalisir risiko malnutrisi?
Pencegahan Primer
Pencegahan malnutrisi dapat dimulai dari masa janin dalam kandungan dengan mengupayakan pemenuhan nutrisi yang baik pada ibu hamil. Setelah janin dilahirkan, pencegahan malnutrisi dilakukan dengan memberikan ASI eksklusif selama enam bulan (Candra, 2017).
Pencegahan Sekunder
Pemantauan kesehatan balita secara rutin untuk melakukan deteksi dini apabila bayi mengalami kekurangan zat gizi merupakan poin utama pencegahan sekunder. Hal ini dapat dilakukan dengan mengajak balita ke Posyandu secara rutin setiap satu bulan sekali (Candra, 2017).
Pencegahan Tersier
Untuk meminimalisir kekurangan zat gizi dalam jangka waktu panjang, balita yang telah terdeteksi mengalami gizi kurang atau buruk dapat mengonsumsi suplemen seng dan zat besi yang dapat meningkatkan nafsu makan balita (Candra, 2017).

Ibu-ibu, Yuk kita cegah malnutrisi!
Pentingnya mengetahui bahaya malnutrisi adalah modal utama bagi ibu-ibu yang memiliki balita untuk mengetahui kondisi malnutrisi pada balitanya. Dengan pengetahuan cukup, maka langkah preventif dapat diterapkan untuk meminimalisir kekurangan maupun kelebihan gizi pada balita. Dengan pemenuhan gizi yang baik, maka balita dapat tumbuh dan berkembang sesuai balita seusia mereka. Mari, berikan ASI eksklusif kepada balita anda selama enam bulan, ajak dan periksakan ke Posyandu, serta beri nutrisi tambahan untuk mencegah terjadinya malnutrisi!

Penulis: I Gede Suka Merta

Referensi :
Adnani, Hariza. 2011. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Yogyakarta: Nuha Medika.
Budiningsari, R. Dwi. Epidemiologi Malnutrisi pada Anak. Yogyakarta: Pusat Pengembangan Pendidikan-Universitas Gadjah Mada.
Candra, Aryu. 2017. Suplementasi Mikronutrien dan Penanggulangan Malnutrisi pada Anak Usia di Bawah Lima Tahun (Balita). Journal Of Nutrition And Health, 5(3). Halaman 159-165.
Katrin H, Ermin dkk. 2018. Data Kandungan Mikronutrien Bahan Pangan pada Daerah Malnutrisi, Yogyakarta: Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi Badan Tenaga Nuklir Nasional.
Krisnansari, Diah. 2010. Nutrisi dan Gizi Buruk. Mandala Of Health, 4(10). Halaman 60-68.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *