Home » Artikel » Hidung Gatal, Kenali dan Waspadai Gejala Rhinitis

Hidung Gatal, Kenali dan Waspadai Gejala Rhinitis

Denpasar-injeksionline Rhinitis adalah radang selaput lendir yang disebabkan oleh proses inflamasi mukosa hidung yang dimediasi oleh reaksi hipersensitifitas. Gejala yang ditimbulkan berupa hidung gatal, bersin-bersin, rhinoe encer dan hidung tersumbat. Rinitis alergi melibatkan interaksi antara lingkungan dengan predisposisi genetik dalam perkembangan penyakitnya. Faktor genetik dan herediter sangat berperan pada ekspresi rinitis alergi (Adams, Boies, Higler, 1997).Allergic-Rhinitis

Berdasarkan cara masuknya alergen dibagi menjadi empat yaitu (Kaplan,2003) :

  • Alergen Inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernafasan, misalnya debu rumah, tungau, serpihan epitel dari bulu binatang serta jamur.
  • Alergen Ingestan, yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan, misalnya susu, telur, coklat, ikan dan udang.
  • Alergen Injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya penisilin atau sengatan lebah.
  • Alergen Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit atau jaringan mukosa, misalnya bahan kosmetik atau perhiasan.

Adapun hal-hal yang dapat kita lakukan untuk mendiagnosis Rhinitis tersebut adalah sebagai berikut :

1. Anamnesis

Dengan melakukan anamnesis kita dapat mengetahui apakah ada riwayat keluarga, atau riwayat terdahulu yang pernah mengalami Rhinitis.

2. Pemeriksaan Fisik

kita dapat melakukan pemeriksaan rhinoskopi anterior yang dapat ditemukan mukosa hidung yang dari tampak normal sampai edema, basah, berwarna pucat atau keabuan disertai rhinore encer yang bervariasi.

3. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Eosinofil sekret hidung, jumlah eosinofil dalam darah tepi, kadar IgE spesifik dan tes kulit. dasar tes kulit adalah menguji ekstrak allergen yang terikat pada sel mast di jaringan kulit. Teknik tes kulit ada dua macam yaitu dengan Epidermal dan Intradermal, diantara keduanya yang lebih sering dipakai adalah Epidermal yaitu dengan Skin Prick Test

Klasifikasi Rhinitis sendiri menurut ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) dan WHO 2001 adalah sebagai berikut:

  • Berdasarkan Presistensi
    1. Rhinitis alergi intermiten, bila gejala berlangsung kurang dari 4 hari atau kurang dari 4 minggu.
    2. Rhinitis alergi persisten, bila gejala berlangsung lebih dari 4 hari atau lebih dari 4 minggu.
  • Berdasarkan Derajat Gangguan
    1. Ringan, apabila tidak ditemukan sebagai berikut :
      • Gangguan tidur
      • Gangguan aktivitas sehari-hari
      • Gangguan pekerjaan atau sekolah
      • Gejala dirasa mengganggu
    2. Sedang atau berat apabila gejala salah satu diatas ada.

Pemberian terapi dan tatalaksana untuk pasien dengan gejala Rhinitis adalah sebagai berikut :

  • Terapi yang paling ideal adalah dengan alergen penyebabnya (avoidance) dan eliminasi.
  • Medikamentosa-Antihistamin yang dipakai adalah antagonis H-1, yang bekerja secara inhibitor komppetitif pada reseptor H-1 sel target, dan merupakan preparat farmakologik yang paling sering dipakai sebagai inti pertama pengobatan rinitis alergi. Pemberian dapat dalam kombinasi atau tanpa kombinasi dengan dekongestan secara peroral. (Mulyarjo, 2006).
  • Operatif, Tindakan konkotomi (pemotongan konka inferior) perlu dipikirkan bila konka inferior hipertrofi berat dan tidak berhasil dikecilkan dengan cara kauterisasi memakai AgNO3 25 % atau troklor asetat (Roland, McCluggage, Sciinneider, 2001).
  • Imunoterapi – Jenisnya desensitasi, hiposensitasi & netralisasi. Desensitasi dan hiposensitasi membentuk blocking antibody. Keduanya untuk alergi inhalan yang gejalanya berat, berlangsung lama dan hasil pengobatan lain belum memuaskan (Mulyarjo, 2006)

(Sumber : tercantum, Article by: @Lyaachan, Edited by: @dedekfriday)

Tinggalkan komentar