HAI MAMI, JANGAN LUPA DETEKSI BIAR HAPPY

Kanker serviks sampai saat ini masih menjadi momok menakutkan di Indonesia. Prevalensi kanker serviks di Indonesia masih sangat tinggi, hal ini dipicu oleh berbagai macam faktor. Sebenarnya, kanker serviks merupakan kanker yang dapat dicegah dan dapat disembuhkan, namun banyak masyarakat yang belum mengetahuinya. Pencegahan kanker serviks sendiri ada dua macam cara yaitu pencegahan primer melalui edukasi dan vaksinasi, serta pencegahan sekunder melalui skrining atau deteksi dini kanker serviks.

Menurut WHO, kanker serviks menjadi kanker dengan posisi mematikan ke-empat dengan perkiraan lebih dari 270.000 kamtian akibat kanker serviks setiap tahun, dan 85% diantaranya terjadi di daerah yang kurang berkembang. Menurut data Globocan International Agency for Research on Cancer (IARC) tahun 2018 kanker serviks di Indonesia menempati urutan ke dua kanker dengan kasus baru tertinggi setiap tahunnya. Di Indonesia dilaporkan bahwa angka kematian akibat kanker serviks yakni 18.279 dengan kasus baru sebanyak 32.469 orang setiap tahunnya.

Sebagai pencegahan terhadap terjadinya kanker serviks, saat ini sudah terdapat vaksinasi HPV yang sudah tersebar di berbagai rumah sakit dan terdapat juga metode deteksi dini kanker serviks untuk mengetahui apakah ada lesi pra-kanker di serviks dan sekitarnya. Deteksi dini kanker serviks merupakan sebuah test untuk mengetahui ada tidaknya bibit-bibit kanker di antara wanita yang tidak memiliki gejala dan mungkin merasa sangat sehat. Ketika test ini mendeteksi lesi pra-kanker sedari dini, maka kondisi ini dapat dengan mudah diobati dan kanker dapat dihindari. Deteksi dini juga dapat membantu mengetahui kanker pada tahap awal dan dengan mengetahui hal tersebut, maka akan mudah untuk menentukan pengobatan yang akan digunakan sehingga akan memiliki potensi penyembuhan yang tinggi.

Ada beberapa tes untuk deteksi dini kanker serviks, namun yang paling popular di Indonesia ada 2 yakni tes pap smear dan juga IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat)

PAP SMEAR

Pap test sering juga disebut dengan Pap smear, merupakan suatu tes skirining kanker serviks yang dapat mengetahui perubahan yang terjadi dalam sel-sel serviks atau mulut rahim yang abnormal. Wanita yang menjalani tes Pap smear akan diposisikan di atas meja pemeriksaan dan kedalam vaginanya akan dimasukan alat yang disebut dengan spekulum dengan lembut. Spekulum ini memungkinkan penyedia layanan kesehatan untuk melihat serviks dan melakukan sedikit olesan dengan menggunakan kuas atau spatula untuk mengumpulkan sel serviks. Penyedia layanan kesehatan akan memutar dengan lembut kuas di dalam saluran endoserviks dan ektoserviks untuk mengumpulkan sel skuamosa dan kelenjar sel. Sel-sel ini akan dikirimkan ke laboratorium untuk dievaluasi di bawah mikroskop.

IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat)

Tahun 1985, WHO menyarankan suatu pendekatan alternatif untuk konsep pencegahan kanker serviks, salah satu caranya adalah dengan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA). Prosedur pemeriksaan tes IVA yaitu dengan memasukan spekulum ke dalam vagina, agar serviks dapat diperiksa secara langsung. Serviks akan diolesi zat asam cuka, apabila zat asam cuka ini mengenai sel-sel abnormal, maka warna jaringan serviks akan berubah menjadi putih dan dikatakan sebagai hasil positif.

Kanker serviks masih menjadi salah satu penyebab amgka kematian wanita terbesar baik di dunia maupun Indonesia. Oleh karena itu pencegahan kanker serviks sangat perlu dilakukan sehingga dapat mengurangi angka penderita kanker serviks serta memberikan manfaat dalam pendidikan dan pengetahuan secara luas kepada masyarakat mengenai kanker serviks.

Jadi, tunggu apa lagi mami? Yuk deteksi dini mulai dari sekarang!

 

Refference:

Country-specific, I., Method, N. and Country-specific, M. (2019) ‘266 794 986’, 256, pp. 2018–2019.

GLOBOCAN.2012.Estimated Cancer Incidence, Mortality and Prevalence Worldwide In 2012 International Agency For Research On Cancer. http://globocan.iarc.fr/Pages/fact_sheets_ cancer.aspx.Diakses tgl 07 April 2018.

InfoDATIN Kemenkes.2015.Situasi Penyakit Kanker. www.depkes.go.id/folder/view/01/structure-publikasi-pusdatin-info-datin.html. Diakses tanggal 07 April 2018.

National Cancer Institute, 2015. HPV and Cancer. [Online] Tersedia di : https://www.cancer.gov/about-cancer/causes-prevention/risk/infectious-agents/hpv-fact-sheet[Diakses 09 April 2018].

WHO, 2016. Human papillomavirus (HPV)and cervical cancer. [Online] Tersedia di : http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs380/en/[Diakses tanggal 05 April 2018].

Yuli Wahyu R et al.,2017. Peranan Human Papillomavirus terhadap Bowenoid Papulosis ( The Role of Human Papillomavirus in Bowenoid Papulosis ). Volume 16, pp. 252-254.

 

Penulis : Putu Kartika Widyasari

Editor  : Dw A A Mas Berliana R

Tinggalkan komentar