Home » Artikel » Ebola Mengancam Dunia

Ebola Mengancam Dunia

APD tidak boleh ditinggalkan saat menangani ebola

APD tidak boleh ditinggalkan saat menangani ebola

Denpasar-injeksionline.com Ebola Virus Disease (EVD) kembali menggemparkan dunia. Wabah ini menghantui para penduduk di Benua Afrika. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hingga saat ini jumlah korban akibat wabah EVD mencapai angka terbesar semenjak virus ini ditemukan yaitu pada tahun 1976. Berdasarkan data terakhir WHO diketahui 1.013 orang meninggal dari 1.848 kasus yang tersebar. Menindaklanjuti hal tersebut, WHO mengumumkan wabah ebola yang melanda sebagian Afrika Barat sebagai situasi darurat kesehatan internasional. Tentunya ini bukan hal yang dapat dianggap remeh mengingat angka fatalitasnya mecapai 90%. Lantas seperti apa sih wabah yang kini menjadi sorotan dunia tersebut?

EVD atau Ebola Hemorrhagic Fever (EHF) merupakan demam berdarah yang parah dan disebabkan oleh negative sense virus ssRNA. International Committee on Taxonomy of Viruses mengklasifikasikan EVD sebagai genus Ebolavirus dalam keluarga Filoviridae dan order Mononegavirales. Sebagai virus yang mengganggu susunan dari sel-sel endotel di lapisan permukaan interior pembuluh darah dan kaskade, EVD secara genetis telah didentifikasi ada lima tipe. Kelima tipe tersebut antara lain:

  1. Ebola Bundibugyo (BDBV)
  2. Ebola Zaire (EBOV) yang ditemukan di Zaire tahun 1976 (tempat pertama terjangkitnya virus ebola)
  3. Ebola Sudan (SUDV) pada akhir tahun 1976 dan menyerang kembali tahun 1979
  4. Ebola Reston (RESTV) yang merupakan variasi dari virus Ebola pada monyet Afrika yang didatangkan dari Amerika
  5. Ebola Tai Forest (TAFV) ditemukan di daerah pantai Ivory kawasan hutan Tai (Afrika Barat) pada tahun 1995.

Ebola tipe BDBV, EBOV, dan SUDV dihubungkan dengan peristiwa wabah di Afrika. Sedangkan virus ebola Reston hanya dapat menyerang primata seperti kera, monyet, dan simpanse, tetapi pernah dilaporkan menginfeksi manusia di Filipina serta RRC namun tidak menimbulkan kesakitan dan kematian.

Lantas bagaimana virus ini dapat menular? Penularan virus ditransmisikan dari hewan ke manusia dan dari manusia ke manusia lainnya. Penularan EVD tidak seperti virus influenza ataupun Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Virus ini tidak menular melalui kontak udara, melainkan melalui kontak langsung manusia dengan darah, hasil sekresi, serta cairan tubuh hewan yang terinfeksi. Beberapa hewan yang dicurigai sebagai host dan ditemukan sakit atau mati karena virus ini di Afrika antara lain simpanse, gorilla, kelelawar buah, monyet, forest antelope, dan landak. Sedangkan penularan dari manusia ke manusia dengan cara kontak langsung melalui kulit atau membran mukosa dengan darah, hasil sekresi, cairan tubuh penderita atau secara tidak langsung melalui lingkungan yang terkontaminasi cairan tubuh, seperti muntah, air liur, dan lain-lain. Tentunya kebersihan lingkungan dan Alat Perlindungan Diri sangat diperlukan saat berhadapan dengan penderita.

Ebola Virus Disease

Ebola Virus Disease

Tentunya selain mengetahui cara penularan EVD, kita juga harus waspada dengan gejala dan tanda dari virus ini. Gejala dan tanda awal terjangkitnya virus ini menyerupai malaria, demam typhoid, disentri, influenza atau infeksi bakteri lainnya. Gejala yang sering ditemui pada penderita adalah demam, sakit kepala, nyeri pada sendi dan otot, lemah, diare, muntah, nyeri di perut, dan kehilangan nafsu makan. Sedangkan pada beberapa penderita timbul ruam di kulit, mata merah, tersedak, batuk, radang tenggorokan, nyeri dada, sulit bernapas, sulit menelan, dan pendarahan dalam serta luar. Gejala-gejala tersebut timbul selama 2 sampai 21 hari setelah terpapar virus ebola selama 8 sampai 10 hari. Ada beberapa orang yang terinfeksi ebola mampu sembuh, namun kebanyakan berakhir dengan kematian. Salah satu faktornya karena hingga saat ini belum ditemukan vaksin maupun obat untuk penyakit ini.

Berbicara mengenai obat, para peneliti sudah berusaha mengembangkan obat untuk EVD. Hingga saat ini telah ditemukan obat ZMapp yang terbuat dari antibody monoclonal dan berasal dari tanaman. Sebelumnya, ZMapp sudah pernah diuji pada monyet yang terinfeksi selama dua hari, namun belum pernah dilakukan uji coba pada manusia. Mengenai hal tersebut, WHO pun masih memperdebatkan mengenai kode etik penggunaan obat ZMapp pada pasien ebola. Semoga saja vaksin dan obat untuk penyakit ini dapat segera ditemukan dan diaplikasikan bagi penderita, mengingat sudah terlalu banyak korban yang berjatuhan akibat EVD. Jangan lupa selalu jaga kebersihan lingkungan sekitar dan hewan ternak anda. Tentunya seperti kata pepatah, mencegah lebih baik daripada mengobati. (Yuliantini)

 

Sumber :

  • CDC. 2014. Signs and Symptoms. Ebola Hemorrhagic Fever. http://www.cdc.gov/vhf/ebola/symptoms/
  • Gatherer, Dere. 2014. The 2014 Ebola Virus Disease Outbreak in West Africa. Journal of General Virology, 95, 1619-1624.
  • Muftiarini, A.F. 2014. WHO Perdebatkan Kode Etik Pengujian ZMapp ke Pasien Ebola. http://m.okezone.com/read/2014/08/07/482/1021246/who-perdebatkan-kode-etik-pengujian-zmapp-ke-pasien-ebola
  • WHO. 2014. Ebola Virus Disease, West Africa-update (17 April). Disease Outbreak News. http://www.who.int/csr/don/2014_04_17_ebola/en/
  • WHO. 2014. Ebola Virus Disease, Fact Sheet No. 103. Disease Fact Sheets. http://who.int/mediacentre/factsheets/fs103/en/

 

 

Tinggalkan komentar