Dampak Negatif dari Kekurangan Jam Tidur

sumber: https://m.liputan6.com/amp/3214548/10-hal-yang-terjadi-pada-tubuh-jika-kurang-tidur

Mengerjakan tugas sering menyebabkan orang menjadi lupa waktu. Salah satu penyebab kekurangan jam tidur adalah melakukan aktivitas sampai larut malam. Kebiasaan memaksakan diri untuk dapat menyelesaikan pekerjaan pada jam istirahat ternyata memiliki dampak yang sangat buruk untuk kesehatan. Selain, tubuh menjadi kurang segar saat bangun tidur, begadang juga memiliki berbagai risiko berbahaya lainnya. Apakah ini berarti kita dapat melakukan aktivitas di malam hari? Bagaimana bila terdapat keperluan yang mendesak? Begadang jika hanya dilakukan satu, dua kali tidak memiliki dampak yang signifikan pada kesehatan. Namun, apabila  sudah menjadi kebiasaan rutin, inilah yang dapat menimbulkan masalah kesehatan.

            Kekurangan jam tidur banyak terjadi pada masyarakat Asia, alasannya adalah karena adanya jadwal sekolah pagi yang mengharuskan mereka bangun lebih awal. Pada salah satu jurnal, Sleep Research Society dikatakan bahwa, masyarakat dengan rasa persaingan tinggi di Asia Timur, memiliki kepercayaan bahwa usaha yang lebih besar dan waktu belajar yang lebih banyak, bahkan sampai rela mengorbankan jam tidur, wajib untuk mendapatkan hasil sesuai standar yang mereka tetapkan. Hal ini diperkuat oleh mereka dengan melihat hasil tes yang memang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang berasal dari Eropa dan Australia.Padahal masyarakat Asia Timur pada umumnya tidur 1-2 lebih sedikit dari masyarakat Eropa dan Australia.

            Setelah melakukan aktivitas seharian tubuh memerlukan waktu untuk meregenerasi sel-sel yan sudah rusak dan membuang toxin yang ada di dalam. Itulah sebabnya, kebutuhan untuk tidur menjadi sangat penting. Proses detoksifikasi (istilah pembuangan toksin) dapat berjalan efektif pada malam hari (saat dalam kondisi tidur). Dalam sehari seseorang setidaknya istiharat seseuai dengan kebutuhan jam tidur masing-masing individu. Apabila kemudian seseorang memilih untuk mengorbankan jam tidurnya untuk melakukan aktivitas lain, akibatnya sel-sel tidak dapat diperbaharui dan proses pembuangan toxin pun menjadi terhambat.  Dampak dari terhambatnya proses ini dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan fisik seperti, obesitas, diabetes, penyakit jantung dan lain-lain.

            Selain masalah penyakit fisik, efek kekurangan tidur ternyata berdampak pada efektivitas di otak. Hasil penelitian terhadap 60 partisipan yang berasal dari sekolah favorit juga mengatakan bahwa, kurang tidur sebagian (partial sleep deprivation) pada remaja dengan durasi serta tingkat  yang sama, seperti yang telah diamati penelitian ini, menunjukkan bahwa remaja mengalami deficit neurobeharioval  yang setara maupun lebih di beberapa domain kognitif.  Efek residu terhadap perhatian berkelanjutan, kecepatan memproses, serta kewaspadaan subjektif masih nampak bahkan setelah dua hari pemulihan (June C. dkk, 2016). Akibatnya siswa menjadi lebih lambat dalam memroses informasi dan sering gagal untuk mempertahankan fokus/konsentrasi saat belajar. Hal ini berarti siswa dari SMA favorit pun rentan terhadap deficit neurobehavioral akibat kurang tidur sebagian. Seharusnya hal tersebut dijadikan pertimbangan bagi para pembuat kebijakan dan orang tua mengenai pengorbanan tidur hanya demi pencapaian akademik.

Daftar Pustaka

Lo June, C.,dkk. 2016. ‘Cognitive Performance, Sleepiness, and Mood in Partially Sleep Deprived Adolescents : The Need for Sleep Study’. Oxford Academic; Sleep Research         Society, vol. 39 no. 3, hh. 687-698

  1. King, Laura. 2010. Psikologi Umum. Jakarta: Salemba Humanika.

Editor : Bayu Mahendra

Tinggalkan komentar