Travel Medicine, a Solution for a Safe Travelling

Travel Medicine, a Solution for a Safe Travelling

Semakin canggihnya alat transportasi dan komunikasi serta teknologi dewasa ini menyebabkan dunia seakan tanpa batas. Pada era globalisasi seperti sekarang ini tidaklah mengherankan jika seseorang yang awalnya sedang berada di London dalam hitungan jam sudah berada di Bali untuk berwisata. Walaupun di satu sisi keadaan ini memiliki dampak positif, di sisi lain situasi ini juga memberikan dampak negatif, yakni makin mudahnya suatu sumber penyakit berpindah dari satu negara ke negara lain. Adanya kesadaran akan masalah-masalah kesehatan yang mungkin timbul berkenaan dengan perjalanan atau wisata kemudian memunculkan suatu solusi, yakni terciptanya cabang kedokteran baru yang dikenal sebagai travel medicine atau ilmu kedokteran wisata.

Kedokteran wisata atau travel medicine adalah bidang ilmu kedokteran yang mempelajari persiapan kesehatan dan penatalaksanaan masalah kesehatan orang yang bepergian (travellers). Cabang ilmu ini mencakup berbagai disiplin ilmu termasuk epidemiologi, penyakit menular, kesehatan masyarakat, kedokteran tropis, fisiologi , mikrobiologi psikiatri, kedokteran kerja dan sebagainya. Bidang ilmu ini semakin berkembang dalam tiga dekade terakhir sebagai respons terhadap peningkatan arus perjalanan internasional di seluruh dunia. Pelayanan kedokteran wisata diberikan di travel clinic yang umumnya berada di negara-negara maju untuk memenuhi kebutuhan warga mereka yang akan bepergian ke negara-negara berkembang. Hal itu dikarenakan sampai saat ini negara-negara berkembang dianggap sebagai daerah tujuan wisata yang mempunyai risiko kesehatan tertentu. Bahkan dalam buku panduannya, World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa konsultasi pra-travel diperlukan oleh travellers yang bermaksud mengunjungi negara berkembang.

Pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah bagaimana dengan masyarakat negara berkembang yang akan bepergian ke luar negeri ataupun ke negara berkembang lainnya? Apakah tidak ada risiko kesehatan yang mungkin menimpa warga negara berkembang tersebut? Inilah salah satu hal yang perlu menjadi sebuah perhatian bagi sebuah negara berkembang, termasuk Indonesia. Salah satu permasalahan yang terjadi adalah pelayanan kesehatan di negara berkembang belum mempunyai visi ke depan, yaitu melindungi warga negara mereka yang akan bepergian. Oleh sebab itulah  dibutuhkan suatu pengetahuan dan keterampilan baru di bidang kedokteran wisata yang perlu dikuasai oleh para tenaga kesehatan di Indonesia, salah satunya adalah mengenai travel clinic dan pelayanan yang ditawarkannya.

Sampai saat ini sayangnya kedokteran wisata masih belum dianggap sebagai suatu spesialisasi tersendiri di kalangan medis serta standar pelayanannya pun juga belum tersedia. Namun sudah jelas bahwa praktik kedokteran wisata berbeda dari praktek kedokteran biasa. Jika praktik dokter biasanya ditujukan untuk pengobatan, maka praktik kedokteran wisata lebih difokuskan pada aspek pencegahan. Dalam pelayanan kedokteran wisata, orang yang datang umumnya adalah orang sehat yang membutuhkan informasi dan tidak menganggap dirinya seorang pasien, meskipun mungkin saja statusnya berubah menjadi pasien setelah pulang dari perjalanan. Selain itu, ada perbedaan bentuk komunikasi yang mendasar yang harus dipahami oleh tenaga kesehatan. Dalam bidang kedokteran wisata, dokter tidak hanya mengupayakan pencegahan penyakit serta menangani masalah-masalah kesehatan pada travelers, tetapi juga mengambil bagian dalam memberikan saran untuk perbaikan pelayanan kesehatan dan keamanan untuk wisatawan.

Di Indonesia khususnya, pelayanan travel medicine yang paling ditekankan untuk saat ini adalah pemberian tindakan preventif berupa imunisasi atau vaksinasi sebelum melakukan perjalanan. Vaksinasi yang diberikan terkait dengan penyakit endemis yang ada pada daerah tujuan. Seperti yang  diungkapkan oleh dr. Agus Somia Sp.PD saat diwawancarai di sela-sela kesibukannya. Beliau mengungkapkan bahwa dari kalangan klinisi kesehatan, seperti dokter misalnya, sangat mengharapkan adanya buku imunisasi untuk orang dewasa seperti halnya buku imunisasi pada anak-anak. Adanya buku imunisasi orang dewasa ini dimaksudkan agar imunisasi yang diberikan dapat dikontrol oleh tenaga kesehatan maupun pasien sendiri.

“Untuk di Bali sendiri, praktek pemberian vaksinasi pada pasien travel medicine sudah berjalan sejak lama, apalagi mengingat Bali merupakan daerah tujuan wisata dunia yang tentunya harus waspada terhadap datangnya wabah penyakit tertentu yang bisa saja terbawa oleh pengunjung yang berasal dari banyak daerah di Indonesia maupun luar negeri,” papar dr.Somnia.

Praktik travel medicine di Indonesia biasanya terdapat di pelabuhan-pelabuhan baik udara maupun laut. Sebagai contoh, jamaah haji di Indonesia yang setiap tahun berangkat menuju tanah suci mekkah wajib divaksin terlebih dahulu sebelum berangkat, begitu juga dengan para pekerja Indonesia yang akan bekerja di luar negeri. Pencegahan berupa vaksinasi sangat dianjurkan kepada siapa saja yang berencana bepergian baik itu berlibur maupun bekerja ke tempat yang jauh dengan waktu yang lama. Idealnya seseorang yang hendak bepergian dianjurkan untuk memeriksakan dirinya ke travel clinic, yakni klinik yang memberikan pelayanan kedokteran wisata (travel medicine clinic). Walaupun sifatnya khusus, travel medicine clinic dapat didirikan secara terintegrasi dengan institusi kesehatan yang sudah ada. Pelayanan kedokteran wisata juga dapat diberikan di klinik dokter umum, klinik rumah sakit dan travel klinik swasta.

Pada travel klinik swasta, pelayanan kedokteran wisata yang profesional umumnya diselenggarakan sebagai suatu badan usaha perseroan terbatas (company) dengan saham-saham yang dimiliki oleh para pendirinya. Lokasi yang diambil tidak di rumah sakit atau klinik umum, namun lebih banyak di tempat-tempat bisnis publik, seperti mal-mal atau pusat perbelanjaan. Selain lokasi-lokasi di atas, klinik yang menyediakan pelayanan kedokteran wisata dapat berada di hotel, pelabuhan, ataupun di klinik-klinik milik maskapai penerbangan. Sebagian besar klinik-klinik ini baru sebatas memberikan pelayanan pengobatan kepada para wisatawan. Namun sebenarnya klinik- klinik seperti ini juga berpotensi menyelenggarakan pelayanan kedokteran wisata untuk tujuan promotif dan preventif bagi masyarakat atau orang asing yang tinggal di wilayah tersebut.

Di travel clinic seseorang dapat berkonsultasi mengenai segala hal yang berkaitan dengan masalah kesehatan perjalanan yang direncanakan. Pelayanan yang didapatkan di klinik tersebut antara lain konsultasi pra-perjalanan, imunisasi, prophylaxis, stand-by treatment, medical kit juga konsultasi dan penatalaksanaan penyakit pasca perjalanan. Di samping itu, setiap klinik dapat pula mengembangkan sistem dokumentasi rekam medik dan sarana tambahan seperti konsultasi via telepon, apotek dan pelayanan penjualan alat-alat untuk pencegahan penyakit.  Sayangnya, berbeda dengan negara maju, di Indonesia sendiri belum banyak terdapat travel clinic semacam ini.

Adapun beberapa rekomendasi dari WHO yang berkaitan dengan travel medicine yakni berupa anjuran untuk mengkonsultasikan kesehatan sebelum bepergian. Konsultasi ini harus dilakukan setidaknya 4-8 minggu sebelum perjalanan dan lebih dianjurkan sebelumnya jika perjalanan jangka panjang atau bekerja di luar negeri. Penilaian risiko kesehatan yang berhubungan dengan perjalanan juga menjadi salah satu hal penting. Setelah melakukan konsultasi, pemberian vaksin atau obat-obat prophylaxis lainnya harus dilakukan menurut hasil penilaian dari konsultasi. Pemberian informasi tentang metode penularan atau penyebaran penyakit dan pencegahannya seperti mencuci tangan, menjaga kebersihan makanan dan minuman, penggunaan anti nyamuk (repellan) bisa dilakukan untuk penyakit yang tidak bisa dicegah dengan vaksin atau obat. Persediaan medis yang cukup juga harus dilakukan untuk memenuhi semua kebutuhan yang akan datang selama perjalanan. Pemberian perhatian khusus pada kelompok-kelompok tertentu juga turut menjadi hal yang harus dilakukan. Hal ini mencakup persiapan-persiapan khusus, seperti pada usia bayi atau lansia serta pada ibu hamil. Semua wisatawan juga sangat disarankan untuk melakukan perjalanan dengan asuransi perjalanan yang komprehensif. Hal ini memudahkan akan ketersediaannya pelayanan kesehatan didaerah tujuan yang sebagian besar dikelola oleh sektor swasta.

Seiring dengan berkembangnya pengetahuan, travel medicine kini telah menjadi suatu kebutuhan yang mendesak dan penting. Apalagi adanya perubahan pola penyakit global serta  adanya kemajuan teknologi dan transportasi menuntut para dokter untuk selalu up-to date terutama dalam memahami aspek epidemiologi di dunia yang nantinya akan sangat berguna dalam merekomendasikan perjalanan sehat dan aman bagi para wisatawan.  (Triana, Ozy, GA)

PELANTIKAN KETUA DAN PENGURUS LMFK PERIODE 2012/2013

PELANTIKAN KETUA DAN PENGURUS LMFK PERIODE 2012/2013

Denpasar – InjeksiOnline.com. Minggu 29 Januari 2012 kemarin Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (FK Unud) melaksanakan pelantikan ketua dan  pengurus Lembaga Mahasiswa Fakultas Kedokteran (LMFK) periode 2012/2013. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Badan Pekerja (BP) FK Unud ini, dilaksanakan di Gedung Teater Widya Sabha FK Unud dan dihadiri oleh sekitar 220 organisator – organisator yang siap dilantik dari organisasi kemahasiswaan di lingkungan FK Unud, yaitu Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Badan Pekerja (BP), Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Pcyco dan himpunan mahasiswa jurusan yang meliputi Himpunan Mahasiswa Kedokteran Umum (HMKU), Himpunan Mahasiswa Ilmu Keperawatan (HMIK), Himpunan Mahasiswa Psikologi (HM Psikologi), Himpunan Mahasiswa Fisioterapi (HM Fisioterapi) dan Himpunan Mahasiswa Ilmu Kesehatan Masyarakat (HM IKM).

Kegiatan ini merupakan kegiatan puncak dari  rangkaian kegiatan Pemilu Raya 2011 yang diadakan bulan November dan Desember lalu. Rangkaian acara pelantikkan ini secara umum terdiri dari pembukaan yang secara resmi oleh Ibu Pembantu Dekan III FK Unud, sambutan dari ketua maupun pimpinan LMFK yang lama dan baru, serta pelantikan ketua – ketua baru dan penyerahan jabatan secara resmi dari ketua lama ke ketua yang  baru. Untuk harapan kedepan, secara umum semua berharap agar kinerja LMFK semakin meningkat dan menjalin kerja sama yang kondusif antara organisasi yang ada. “Semoga semua organisasi di lingkungan FK bisa lebih meningkatkan kualitas kinerjanya lagi dan tetap menjaga kerjasama maupun koordinasinya,” tutur Mita selaku Pemimpin Umum Pcyco yang baru. Selamat untuk ketua dan pengurus baru LMFK yang telah dilantik, selamat menjalankan tugas dan tetap memberikan yang terbaik untuk FK Unud. Viva Hippocrates!

Nama – nama Ketua dan Pimpinan LMFK 2012/2013 :

  1. Ketua BPM                                       :  Made Arya Wiryanatha
  2. Ketua BEM                                       : I Gusti Ngurah Agung Indra Suharta
  3. Ketua BP                                           : Ayu Emmy Savitri Karin
  4. Pimpinan Umum LPM Pcyco   : Anak Agung Ketut Yunita Paramita
  5. Ketua HMKU                                   : Devi Oktapiani Putri
  6. Ketua HMIK                                    : Luh Putu Citra Dewi Jayanti
  7. Ketua HM Psikologi                     : Nago Tejena
  8. Ketua HM Fisioterapi                  : I Gede Mediastama Sukaratha
  9. Ketua HM IKM                               : I Putu Andi Prayoga

 

(Apollo) edited by @yudofandhie

Open House Fakultas Kedokteran Universitas Udayana – 24 Februari 2012

Open House Fakultas Kedokteran Universitas Udayana –  24 Februari 2012

Fakultas Kedokteran adalah fakultas favorit di lingkungan Universitas Udayana. Bahkan juga menjadi unggulan Universitas Udayana di tingkat nasional dan internasional. Hal ini dapat terlihat dari tingginya peminat yang mendaftarkan diri untuk dapat diterima sebagai mahasiswa, termasuk juga calon mahasiswa dari luar negeri; Malaysia. Sebagai institusi yang mengedepankan kualitas, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (FK Unud) berusaha menjamin keterbukaan informasi termasuk kejelasan tentang proses rekrutmen, proses belajar mengajar dan berbagai informasi lain yang dibutuhkan masyarakat. Keterbukaan informasi ini diharapkan dapat mengurangi distorsi informasi yang terjadi di masyarakat, terutama tentang proses rekrutmen, pembiayaan kuliah dan beberapa kebijakan dalam proses pendidikan di FK Unud. Yang belum banyak masyarakat mengetahui juga adalah saat ini Fakultas Kedokteran tidak hanya mengelola Program Studi Pendidikan Dokter, tetapi juga ada empat program studi unggulan lain yang juga akan terus diperkenalkan ke masyarakat yaitu Program Studi Ilmu Keperawatan, Program Studi Ilmu Psikologi, Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, dan Program Studi Fisioterapi.

Strategi yang ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut adalah mempertemukan secara langsung pengelola fakultas dengan peminat atau para calon mahasiswa, penyampaian informasi penting secara jelas melalui pameran dan pengenalan kegiatan-kegiatan yang ada di FK Unud, yang dikemas dalam bentuk kegiatan “Open House”. Open House FK Unud adalah rangkaian kegiatan yang terdiri dari pameran pendidikan, pengenalan kegiatan kemahasiswaan dan diskusi antara pengelola fakultas dengan peminat FK Unud, baik siswa maupun orang tuanya. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kejelasan informasi dan memberikan gambaran secara utuh kegiatan pendidikan di FK Unud. Kejelasan informasi ini akan memberdayakan calon siswa dan bahkan orang tuanya sebelum memasuki jenjang pendidikan tinggi. Pemberdayaan ini termasuk memberikan wawasan dan pengetahuan sebelum mereka melakukan pilihan sehingga pilihan untuk masuk FK Unud merupakan pilihan cerdas yang dilakukan berdasarkan pertimbangan yang matang.

Tujuan Kegiatan

  1. Memberikan informasi kepada masyarakat umum dan peminat FK Unud tentang proses rekrutmen, proses belajar mengajar, dan kegiatan kemahasiswaan yang ada di lingkungan FK Unud.
  2. Memberikan kesempatan kepada masyarakat dan peminat FK Unud untuk mendapatkan kejelasan atas berbagai distorsi informasi dari pengelola fakultas secara langsung.

Tempat dan Waktu

Kegiatan Open House ini bertempat di Gedung FK Unud dan rencananya akan dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 24 Februari 2012

Jenis Kegiatan

1.   Tour Fasilitas Pendidikan/ Kegiatan Belajar Mahasiswa

Di sini akan dipaparkan mengenai apa saja program studi yang ada di FK Unud, bagaimana proses rekrutmen, kegiatan perkuliahan, sistem evaluasi, kelulusan dan hal-hal akademik lainnya. Termasuk bagaimana setelah lulus nanti.

2.   Diskusi terbuka dengan pimpinan fakultas

Diskusi akan dilakukan antara pengelola fakultas atau pimpinan dengan pengunjung yang berminat. Diskusi akan dipandu moderator dan memberikan kesempatan pengunjung untuk mendapatkan informasi yang lebih dalam dari pihak pengelola fakultas tentang berbagai isu yang berkembang di masyarakat terkait pendidikan kedokteran di FK Unud.

3.   Pengenalan kegiatan kemahasiswaan

Banyak kegiatan yang dilakukan mahasiswa di luar jam kuliah yang nantinya bisa menyalurkan hobi, kepedulian dan kemampuan empati sebagai seorang dokter atau praktisi kesehatan. Kegiatan dan organisasi peduli AIDS, peduli kanker, jurnalistik, pecinta alam, dan bantuan medis, kelompok ilmiah dan lain-lain akan ditampilkan.

Peserta

Kegiatan ini diharapkan dihadiri oleh siswa SMA peminat FK Unud, guru-guru pembina dari SMA, orang tua calon mahasiswa dan semua kalangan yang tertarik akan informasi tentang FK Unud.

Jauh-Jauh ke Bali Hanya Untuk AIDS

Jauh-Jauh ke Bali Hanya Untuk AIDS

 

DENPASAR, INJEKSIONLINE.com – Jumat, 30 September 2011, Lembaga Pers Mahasiswa Pers and Cyber Community (LPM Pcyco) mendapatkan kesempatan untuk meliput kegiatan sosial yang diselenggarakan oleh Negara tetangga, Australia. Kegiatan yang berupa penyuluhan mengenai AIDS ini bertema “Youth Movement”.

 

Penyuluhan ini diikuti oleh empat mahasiswa dari Community Development, Melbourne University, satu dosen pembimbing mereka, dan bekerjasama dengan Radio Heartline FM 92.2, mahasiswa Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana, serta Karang Taruna Desa Tulikup. Penyuluhan yang berlangsung dari pukul 17.00 – 19.00 WITA ini bertempat di Kantor Kepala Desa Tulikup, Kabupaten Gianyar.

 

Kegiatan ini salah satunya berupa pembagian kondom gratis. Peserta penyuluhan sejumlah 20 orang, baik pemuda, maupun pemudi. Selain penyuluhan, kegiatan ini juga bergerak dalam pembuatan iklan layanan masyarakat tentang isu-isu terbaru di sekitarnya, baik berupa spanduk, siaran radio, atau selebaran.

 

Penyuluhan ini dibuka oleh Laura (mahasiswa Melbourne), dilanjutkan dengan sambutan dari salah satu perwakilan mahasiswa Melbourne bernama Cellia. Semua panitia yang terlibat dalam kegiatan ini memakai polo-shirt dengan tulisan “Bali Work Placement” dibelakangnya.

 

Kepala Desa mengatakan bahwa kegiatan ini sangat mendidik, mengingat sejak pembangunan by pass yang melintasi daerah mereka, pengaruh buruk semakin banyak. Ditambah pula dengan menjamurnya “warung malam” atau tempat-tempat hiburan lainnya. Hal ini diperparah dengan sudah adanya satu pemuda di desa ini yang positif HIV.

 

Kegiatan ini juga dihadiri oleh dua remaja dari Forum Anak Daerah.

 

Penyuluhan yang menginfokan mengenai cara penularan HIV dan pencegahannya ini, juga mengajari cara penggunaan kondom yang benar. Selepas acara, para peserta dihimbau untuk menuliskan keinginan-keinginan mereka diatas kertas warna-warni dan menggantungkannya di “Pohon Harapan”. Sebuah inovasi yang sungguh unik. Semoga kelak remaja-remaja di Indonesia menjadi lebih baik dan membanggakan! (Reqgi First Trasia) edited by @yudofandhie