7 Tanda Toxic Relationship yang Jarang Diketahui

Hai, Sobat Injeksi! Di bulan kasih sayang ini, kita bakal membahas toxic relationship nih, yuk simak bareng-bareng!

Sobat Injeksi pasti pernah merasa lelah saat menjalani suatu hubungan, bukan? Atau mungkin sering merasa tidak bahagia bahkan risih saat bersama pasangan? Bisa jadi itu adalah tanda bahwa Sobat Injeksi sedang berada dalam hubungan yang toxic.

Pada saat Sobat Injeksi sedang menjalin suatu hubungan, pasti selalu ada hal yang menyebabkan masalah dan memicu pertengkaran. Namun, apabila terlalu sering terjadi, hal ini bisa menjadi tanda dari hubungan yang kurang sehat atau yang biasa disebut dengan toxic relationship. Toxic relationship dapat diartikan sebagai kondisi di dalam suatu hubungan yang tidak lagi saling mendukung, menjatuhkan satu sama lain, tidak ada rasa hormat, dan tidak adanya keselarasan. Hal yang menjadi kekhawatiran adalah ketika seseorang justru tidak menyadari dirinya berada dalam toxic relationship.

Takut kehilangan pasangan dan hubungan yang terlanjur dijalani dalam kurun waktu lama menjadi salah satu faktor utama dari ketidakmampuan untuk mengakhiri hubungan yang tidak sehat ini. Biasanya, seseorang yang berada dalam toxic relationship tidak mempermasalahkan apabila pasangannya berperilaku semena-mena atau bahkan melakukan kekerasan, baik fisik maupun verbal, asalkan mereka tetap bersama. Toxic relationship juga dapat ditunjukan dari kurangnya rasa saling percaya satu sama lain, tidak memberi dukungan terhadap pasangan, dan selalu bersikap egois. Hal ini membuat seseorang yang terjebak dalam toxic relationship biasanya merasa kurang bahagia dalam menjalani hubungannya bersama pasangan. 

Banyak dampak buruk yang dapat muncul akibat hubungan toxic bagi pasangan yang sudah terjebak di dalamnya. Dampak yang dihasilkan bisa berpengaruh negatif pada keadaan mental seseorang, mulai dari stres dan depresi, rasa percaya diri berkurang akibat pasangan yang tidak pernah mendukung, bahkan dapat mengakibatkan trauma untuk menjalin hubungan yang baru. Apabila dibiarkan, hubungan yang seharusnya membawa kebahagiaan malah berujung penderitaan bagi pasangan yang menjalaninya. Tentu Sobat Injeksi ingin terhindar dari hubungan tidak sehat ini, kan? Mari kenali tanda atau ciri-ciri toxic relationship demi menjaga kesehatan mental dalam menjalin hubungan!

Ciri-ciri toxic relationship:

  1. Kurang menghargai dan menuntut pasangan secara berlebihan  

Setiap orang tentunya akan merasa lelah apabila terus direndahkan oleh pasangan. Tidak jarang dalam toxic relationship, salah satu pihak terus menuntut pasangan untuk menjadi sempurna. Misalnya, merasa pasangan tidak cukup baik, tidak cukup rupawan, hingga merasa tidak pantas berpasangan dengan dirinya. Hal ini akan membuat pihak yang dituntut merasa tidak nyaman karena tidak menjadi dirinya sendiri.

  1. Terlalu mengatur hidup pasangan (posesif)

Sikap posesif dalam suatu hubungan dipandang berbeda-beda bagi setiap orang. Sebagian orang mengatakan bahwa sikap posesif itu diperlukan dalam suatu hubungan, sedangkan sebagian lain akan mengatakan sebaliknya. Keuntungan dari sikap posesif adalah selalu merasa diutamakan, mendapatkan perhatian, serta mendapatkan perlindungan yang lebih. Namun, sikap posesif yang melampaui batas akan memberikan dampak negatif dalam hubungan. Hal negatif ini dapat memicu terganggunya kesehatan mental. Misalnya, lingkungan pertemanan yang semakin sempit karena dikekang pasangan. Hal ini tentunya dapat membuat pasangan merasa tidak nyaman karena ruang gerak untuk bersosialisasi dibatasi oleh orang lain.

  1. Adanya ancaman dan kekerasan dalam hubungan 

Dalam suatu hubungan, terutama remaja, sangat rentan dengan keadaan emosi yang kurang stabil. Hal ini menyebabkan ketidakmampuan untuk mengendalikan emosi yang dapat berujung pada perilaku kekerasan, baik fisik maupun verbal. Kekerasan fisik merupakan kontak langsung yang dapat menimbulkan perasaan intimidasi, cedera, dan kerusakan pada tubuh, sedangkan kekerasan verbal merupakan kata-kata yang disampaikan tidak hanya dengan membentak atau berbicara dalam nada tinggi, tetapi juga kata-kata halus yang secara perlahan dapat membunuh karakter pasangan. 

Sebagian besar pasangan yang menjadi korban kekerasan dalam suatu hubungan tidak pernah melaporkan penderitaan yang dialami, bahkan masih melanjutkan hubungannya karena beberapa alasan. Hal ini mungkin dikarenakan pasangan tersebut tidak menyadari bahwa dirinya adalah korban kekerasan atau adanya rasa takut untuk menceritakan keadaan hubungan kepada orang lain karena diancam oleh pasangan. 

  1. Cara berkomunikasi yang salah 

Komunikasi yang baik merupakan hal penting yang harus dimiliki setiap pasangan, apalagi pada saat menghadapi masalah. Apabila pasangan memiliki komunikasi yang buruk, bukannya saling bertukar pikiran dan mencari solusi untuk permasalahan, pasangan justru saling menyalahkan hingga dapat melakukan kekerasan verbal dengan mengucapkan kata-kata yang kasar kepada pasangan. Hal ini akan menimbulkan ketidaknyamanan dan adanya perasaan takut untuk berkomunikasi satu sama lain.

  1. Selalu merasa kurang bahagia 

Ada kalanya seseorang telah melakukan segala sesuatu yang dirasa baik bagi hubungan yang dijalani. Namun, selalu ada rasa kurang puas, walaupun orang tersebut sudah memberi yang terbaik bagi pasangan dan juga hubungannya. Rasa kurang puas tersebut bisa terjadi karena adanya suatu masalah atau hal yang belum terpecahkan antarpihak dalam hubungan. Masalah yang dipendam ini dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman dan membuat pasangan kurang bahagia dalam menjalani hubungan, meskipun merasa telah memberikan yang terbaik.

  1. Kurang mendukung dan mengapresiasi  hal yang diinginkan pasangan

Pasangan yang baik tentunya merupakan orang yang selalu mendukung pasangannya dalam meraih cita-citanya. Pasangan dapat dikatakan toxic apabila salah satu atau kedua belah pihak tidak saling mendukung atau bahkan menahan pasangannya berkembang ke arah yang lebih baik. Pasangan yang toxic akan memandang cita-cita dari pasangannya sebagai hal yang kurang penting dan bukan bagian dari hubungan, sehingga orang tersebut tidak akan mengapresiasi pencapaian yang telah diraih pasangannya atau bahkan bersifat kompetitif.

  1. Mengarahkan pasangan pada hal-hal yang negatif

Hubungan yang sehat pasti membawa pengaruh positif terhadap kedua belah pihak yang menjalaninya. Namun, tidak jarang juga pasangan malah mengajak atau bersama-sama melakukan hal negatif yang merugikan salah satu atau keduanya. Hal ini dikarenakan ketidakmampuan untuk mengontrol diri, sehingga mudah terpengaruh untuk melakukan berbagai hal yang tidak sesuai norma. Jika hal ini terus dibiarkan, maka hubungan akan merusak mentalitas dari setiap pasangan yang terjebak dalam hubungan tersebut.

Apakah Sobat Injeksi merasa mengalami beberapa tanda-tanda tersebut? Ingat, hubungan yang toxic dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental. Dampak psikologis yang dirasakan dapat berupa depresi, stres dan kecemasan berlebih. Cara yang dapat dilakukan untuk mengatasinya adalah dengan memperbaiki hal-hal yang bersifat toxic dari hubungan tersebut atau dengan berani mengakhiri hubungan apabila dirasa kurang baik bagi salah satu pihak maupun keduanya.

Berani keluar dari sebuah toxic relationship akan membuat orang-orang yang pernah terjebak merasa lebih lega, bahkan bisa lebih terbuka untuk membangun hubungan baru yang lebih sehat. Hubungan yang sehat tentu dapat membawa pengaruh yang baik dan perasaan bahagia bagi setiap pasangan yang menjalaninya. Dengan hubungan yang sehat, Sobat Injeksi dapat merasakan kebahagiaan dalam hubungan dengan tetap menjadi diri sendiri. Rasa bahagia inilah yang akan membawa Sobat Injeksi pada keadaan mental yang lebih baik!

Apabila Sobat Injeksi merasa informasi ini bermanfaat, yuk bagikan untuk teman-teman yang lainnya agar kita sama-sama terhindar dari toxic relationship

SUMBER

Agnes, T. et al. (2019). Persepsi Generasi Milenial Terhadap Toxic Relationship dari Pandangan Transactional Analysis..

Hargono, R. (2014). Kekerasan dalam pacaran dan gejala depresi pada remaja.  Jurnal Promkes, 2(2), pp. 173–185.

Nazaria, S. and M.Elisabetta, T. (2019). Human networks and toxic relationships.  Munich Personal RePEc Archive, (95756), pp. 1–10.

Putri, B.N; Putri, K. Y. S. (2020). Representasi toxic relationship dalam video klip Kard “You in me” Jurnal Semiotika, 14(1), pp. 48–54.

Yeni, F. (2013). Dinamika Komunikasi Antar Pasangan. NERS Jurnal Keperawatan, 9(2), p. 109. doi: 10.25077/njk.9.2.109-115.2013.

Penulis artikel: Angel dan Grace

Redaktur: Gita

Editor: Ara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *